h1

ETIKA DAN MORAL

October 22, 2010

HAKIKAT ETIKA

Berbeda dari binatang yang bertindak mengikuti desakan naluri, di dalam banyak hal manusia justru harus menekan nalurinya. Manusia memiliki kesadaran etis tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang jahat, apa yang tepat dan apa yang tepat. Kesadaran etis belum dapat disebut etika. Kesadaran etis sering muncul secara spontan tanpa disadari sepenuhnya oleh sipemiliknya sendiri, kebanyakan ada dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan yang sudah tertanam di alam bawah sadar, hasil proses pewarisan dari generasi ke geerasi.

Lain dengan etika, yang selalu merupakan tindakan yang sadar dan sengaja. Ketika kesadaran etis muncul ke permukaan untuk dirumuskan secara eksplisit, dibahas secara sadar, dan disusun secara teratur, pada waktu itulah kita berhadapan dengan etika. Sebab itu, etika adalah ilmu.

Ilmu tentang Moral

Etika atau filsafat moral dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempelajari bagaimana seharusnya manusia bertindak sehubungan dengan tujuan hidupnya. Semua cabang filsafat berbicara tentang “yang ada”, sedangkan etika membahas “yang harus dilakukan”.

Ada tiga pendekatan dalam mempelajari tingkah laku moral, yaitu:

  1. Etika Deskriptif

Etika ini melukiskan adat istiadat, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan, moralitas dalam arti luas, pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkutur tertentu, dalam suatu priode sejarah, dan sebagainya. Pendekatan ini bersifat netral, tidak mengemukakan penilaian moral. Sekarang ini etika deskriptif dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi budaya, psikologi, sosiologi, sejarah. Studi tentang perkembangan kesadaran moral yang dilakukan oleh Jean Pieget (1896-1980) dan Lawrence Kohlberg (1927-1988) termasuk etika deskpriptif.

2. Etika Normatif

Etika ini bersifat preskriptif (memerintahkan), tidak melukiskan secara netral, melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Lewat argumentasi-argumentasi, berdasar alasan-alasan yang kuat, prinsip-prinsip etis dirumuskan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktik. Etika normatif dapat dibedakan dalam etika umum dan etika khusus yang juga dinamakan etika terapan.

3. Metaetika.

Awalan meta-(Yun) mempunyai arti “melebihi”. Istilah ini menunjukan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan bahasa yang dipergunakan di bidang moral. Metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan atau pertanyaan etis. Disini, seperti pada etika deskriptif, peneliti bersikap netral terhadap setiap posisi moral. Keterkaitan dengan filsafat analitis, salah satu pelopornya George Moore (1873-1958), yang menganggap analisis bahasa merupakan tugas terpenting bagi filsafat, membuat metaetika disebut juga etika analitis. Jika kita berbicara tentang bahasa moral, dengan mudah sekali pembicaraan kita beralih ke apa yang ditunjukan oleh bahasa itu, yaitu perilaku moral itu sendiri. Karena itu sulit ditarik garis batas yang tajam antara etika normatif dan metaetika.

Metaetika dan etika deskriptif merupakan pendekatan non-normatif. Etika deskriptif sendiri merupakan pendekatan non-filosofis. Sedangkan pendekatan filosofis terdiri dari etika normatif dan metaetika.

Pengertian Etika

Kata “etika” berasal dari bahasa Yunani, ethos yang artinya “sifat” atau “adat kebiasaan”. Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) .

Kata “moral” berasal dari bahasa Latin, mos (jamak mores), sebenarnya memiliki arti yang sama dengan “etika” . Moral adalah: 1. ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban; sinonim dengan akhlak, budi pekerti, susila; 2. kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan; 3. ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.

Kamus tersebut mengartikan “moralitas” secara sempit, sebagai sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. Menurut Bertens, ketika kita berbicara tentang “moralitas suatu perbuatan” maksudnya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. “Moralitas” adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Apa yang disebut amoral, tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis, non-moral; dibedakan dari immoral, yang maksudnya bertentangan dengan moralitas yang baik, atau secara moral buruk, tidak etis.

Walau pada dasarnya “etika” sama artinya dengan “moral”, kedua istilah tersebut sering dibedakan penggunaannya. Istilah “etika” lebih menunjuk pada pemikiran kritis atau filsafat, bersifat konseptual, yang mempersoalkan mengapa; sedangkan istilah “moral” menyangkut ajaran atau peraturan, yang mengedepankan persoalan bagaimana harus berbuat dengan menetapkan boleh atau tidaknya suatu perbuatan itu dilakukan. Singkatnya, etika adalah prinsip-prinsip moral.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: