h1

KASIH ORANG TUA SEPANJANG MASA

November 26, 2010


(ORANG TUA ADALAH BUDDHA HIDUP)

Bhikkhu Aggacitto


Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sammbuddhasa 3x

MATA YATHA NIYAM PUTTAM
AYUSA EKAPUTTAMANURAKKHE
EVAMPI SABBABHUTESU
MANASAMBHAVAYE APARIMANAM

Setiap makhluk yang terlahir didunia ini tentu semua berawal dari adanya orang tua, baik itu binatang ataupun manusia tanpa terkecuali. Dalam kehidupan ini sebelum seseorang menjadi ayah & ibu dari anak – anaknya, tentu sebelumnya terlebih dahulu telah menjadi anak dari orang tuanya, kita ada ada didunia ini tentu karena adanya orang tua kita, tidak mungkin kita ada tanpa adanya kedua orang tua kita…???

Saudara – saudara sekalian taukan anda…??? betapa besarnya jasa orang tua terhadap diri kita…??? Jika diibaratkan dengan luasnya samudara itupun belum cukup sebanding. Mungkin sebagian orang tidak mengetahui serta memahaminya, bahwa orang tua (mama dan papa) telah banyak berjasa dan berkorban demi kehidupan kita, demi masa depan kita serta demi kebahagian kita.

Apa bila mengingat kembali waktu semasa kita masih di bangku TK/ SD ada sebuah lagu yang sangat mengaharukan yg mungkin dapat kita jadikan sebuah renungan kembali  sungguh betapa besarnya kasih sayang orang tua kita “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak akan kembali bagai sang surya menyinari dunia” Jika diperumpamakan “Kasih sayang Ibu itu sepanjang masa yang tak akan pernah pudar oleh sang waktu tetapi kasihsayang anak hanyalah sebatas sepanjang pohon kelapa

Tetapi pada zaman sekarang seorang anak banyak yg berpikir dan beranggapan keliru. kalau kasih sayang orang tua yg diberikan dianggapnya sebagai suatu ancaman, larangan, tekanan, dan suatu penderitaan. Tidak heran kalu anak – anak masa sekarang mengartikan nasihat itu sebagai suatu hal yang menakutkan…..

Banyak sekali anak pada zaman sekarang mengatakan

“Mama Papaku itu enggak gaul, enggak modren”

“Mama Papaku itu kampungan, terlalu kolot, terlalu kaku”

“Mama Papaku itu enggak sayang dan enggak mau ngertiin aku”

Inilah saudara – saudara yg terjadi pada umumnya dikalangan remaja sekarang, mereka menggap dan mengartikannya sampai sedemikian rupa, tetapi kalau kita melihat dan merenungkan kembali. Sebelum sampai saat ini bagaimana proses pertumbuhan kita. “Ketika kita masih didalam kandungan…??? selama 9 – 10 bulan mama tidak pernah mengeluh dalam mengandung kita. Mama Papa selalu menjaga kondisi kesehatan kandungan dengan baik, baik dari pola makan dan sampai aktifitaspun mereka kurangi. Walaupun perut mama besar dan berat mama tetap bersabar…..Setelah 9 – 10 bulan mengandung dan ketika waktu melahirkan mama merasakan penderita dan menahan kesakitan serta nyawa mamapun dipertaruhkan saat itu juga…Mulai sejak kita dilahirkan pada masa – masa balita “Mama Papa” Mulai kita jadikan pembantu – kita jadikan pelayan setiap saat. Dan kitanya yg menjadi majikan – menjadi Bossssnya…. ketika lapar, ketika popok basah, ketika kedinginan, ketika sakit dan ketika kita merasa bahaya,  hanya dg sebuah alunan melodi tangisan saja yg bisa kita lakukan,  walaupun alunan melodi tangisan akhirnya meramaikan seisi rumah, tidak peduli itu siang ataupun tengah malam. Mama Papa tetap selalu ada dan selalu siap setiap saat untuk menemani, melindungi serta yg memenuhi semua keinginan kita…bahkan mama kita terkadang rela memakan makanan yang tidak enak demi kita, makanan yg enak diberikan kepada kita sedangkan makanan yg tidak enak dimakannya…..ketika sudah beranjak dewasa mama selalu mengajari dalam berbagai hal untuk kita…sehigga sampai kita bisa melihat sendiri seperti apa kita sekarang ini”

Saudara – saudara sekalian yang berbahagia…melihat apa yg sudah diberikan orang tua terhadap diri kita, apakah pantas kita berlaku dan bersikap tidak baik kepada mereka???

(Khuddaka Nikaya, 286) “Dalam sabda Sang Buddha, orangtua sering disamakan dengan sesosok Buddha dan Brahma yang tinggal dalam rumah. Buddha pertama dan guru pertama dalam hidup kita” sebelum kita mengerti apa – apa orang tua kitalah yg mengajarkan dan yang memberi penceraha diri kita. Karena jasa orang tua yang sangat begitu besar itu “Sang Buddha juga memeberikan sebuah perumpamaan “Dalam Anguttara Nikaya Bab IV ayat 2 “Meskipun seorang anak menggendong ayahnya dipundak kiri dan ibunya di pundak kanan selama seratus tahun, itupun belum cukup untuk membalas jasa kebaikan yang orangtua berikan.”

Jadi pengertian orang tua dalam ajaran Buddha mempunyai keagungan yang sangat tinggi, orang tua digambarkan sebagai sesosok Buddha dan Brahma didalam hidup kita. Kita tau bawasannya Bhrama merupakan makhluk yang tingkatannya lebih tinggi diatas dewa, untuk itu apakah kita pantas dan bersikap tidak baik kepada mereka???

Walaupun sebesar apapun yang kita berikan, sebanyak apapun yang diberikan kepada mereka itu belum cukup untuk membalas jasa baik kedua orang tua.

Rasa “ Katannukatavedi” tau berterima kasih dan berbakti kepada mereka adalah salah satu cara yang terbaik dan salah satu kewajiban yang harus berikan seorang anak kepada orang tuanya. Menghormati, menyayangi mereka adalah wujud yang memang perlu kita berikan setiap waktu dan setiap saat. Janganlah kita melihat kesalahan apa yg telah mereka lakukan, kesalahan yg telah dilakukan itu merupakan sebagian kecil dari rasa sayangnya kepada anaknya. Tetapi apakah kita pernah menyadari bahwa kita sendiri juga sering membuat kecewa, sering membuat sakit hati (ciak sam kwua) dan sering membuat kesalah kepada mereka. Jika dibandingkan kesalahan kitalah yang paling banyak. Akan tetapai orang tua mama papa tetap selalu memberikan maaf dan memberi kesempatan untu kita.

Saudara – saudara sekalian yang berbahagia…. Sebagai anak yang baik dan sebagai anak yang sudah mempunyai pengertian didalam ajaran Buddha hendaknya selalu berusaha sadar diri, mawas diri bagaimana yang memang perlu kita lakukan terhadapnya. Semua orang tua yang ada didunia ini tidak hanya manusia atau binatang, mereka juga berharap dan mengharapkakn sebuah kebahagian untuknya dan kebahagian untuk anak – anaknya. Tidak ada satupun didunia ini orang tua mengharapkan anaknya celaka, anaknya menderita didalam hidupnya “Tidak mungkin induk harimau mau memakan anaknya sendiri” terkadang kita juga perlu banyak belajar dari binatang walaupun binatang merupakan salah satu makhluk yg labih jauh baik dari kita “rasa sayang dan cinta kasihnya, hubungan batinnya”

Janganlah dengan apa yg sudah kita miliki, apa yang telah kita punyai sekarang ini (harta dan kekuasaan) lantas kita bersikap tidak baik kepada mereka, bersikap tidak pantas kepada mereka. Kurang memperhatian kurang sayang dan lupa terhadapnya. Terlebih – lebih janganlah orang tua kita masukan ke panti jompo lantaran dendam karena suatu kesalah yg pernah mereka lakukan terhadap diri kita serta Janganlah banyak berdalih dan beralasan 1000 bahasa karena kesibukan pekerjaan dll, Cobalah berikan sedikit waktu untuk mereka, karena dengan cara inilah setidaknya kita membalas sedikit Jasa budi baik orang tua.

Ketika orang tua kita sudah memasuki usia senja pasti nanti akan ada suatu perubahan dan perubahan itu terkada mengherankan, “Bisa dikatakan menjengkelkan” (dalam masa itu orang tua sudah mulai ada perubah. mulai seperti kekanak – kanakan yg mintanya diperhatiin dan disayangi terus) apabila itu nanti terjadi cobalah menghadapinya dengan kasih sayang , seperti halnya ketika mama papa menghadapi masa kecil masa kekanak – kanakan kita dulu)

Sang Buddha sendiri walaupun sudah menjadi Samma Sambuddhasa, guru agung para dewa dan manusia, pengenal segenap alam dan yang mahatau dan maha bijaksana. Beliau tidak lupa kepada kedua orang tuanya yang telah melahirkan, yang telah mendidik dan yang telah menyayanginya…salah satu wujud yg telah beliau berikan adalah memberikan pengertian & pemahaman tentang ajaran dhamma kepada ayahandanya Raja Suddhodana serta memberikan ajaran dhamma (yaitu tentang Abhidhamma) kepada ibundanya Ratu Mahamaya dialalam Surga Tavatimsa.

Saudara – saudara sekalian…. Didalam hukum sebab – akibat (hukum karma) membunuh, melukai, menyakiti dan membuat penderitaan orang tua. Baik itu secara jasmani atau batin adalah salah satu bagian “Garuka Kamma” kamma buruk kamma berat dan akibatnya nanti akan membuat penderitaan yang sangat berat  dikehidupan saat ini maupun kehidupan yang akan datang, jauh lebih menderita yg telah kita lakukan terhadap mereka.

Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitata

Sadhu…Sadhu…Sadhu…

 

 

Advertisements
h1

ETIKA DAN MORAL

October 22, 2010

HAKIKAT ETIKA

Berbeda dari binatang yang bertindak mengikuti desakan naluri, di dalam banyak hal manusia justru harus menekan nalurinya. Manusia memiliki kesadaran etis tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang jahat, apa yang tepat dan apa yang tepat. Kesadaran etis belum dapat disebut etika. Kesadaran etis sering muncul secara spontan tanpa disadari sepenuhnya oleh sipemiliknya sendiri, kebanyakan ada dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan yang sudah tertanam di alam bawah sadar, hasil proses pewarisan dari generasi ke geerasi.

Lain dengan etika, yang selalu merupakan tindakan yang sadar dan sengaja. Ketika kesadaran etis muncul ke permukaan untuk dirumuskan secara eksplisit, dibahas secara sadar, dan disusun secara teratur, pada waktu itulah kita berhadapan dengan etika. Sebab itu, etika adalah ilmu.

Ilmu tentang Moral

Etika atau filsafat moral dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempelajari bagaimana seharusnya manusia bertindak sehubungan dengan tujuan hidupnya. Semua cabang filsafat berbicara tentang “yang ada”, sedangkan etika membahas “yang harus dilakukan”.

Ada tiga pendekatan dalam mempelajari tingkah laku moral, yaitu:

  1. Etika Deskriptif

Etika ini melukiskan adat istiadat, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan, moralitas dalam arti luas, pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkutur tertentu, dalam suatu priode sejarah, dan sebagainya. Pendekatan ini bersifat netral, tidak mengemukakan penilaian moral. Sekarang ini etika deskriptif dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi budaya, psikologi, sosiologi, sejarah. Studi tentang perkembangan kesadaran moral yang dilakukan oleh Jean Pieget (1896-1980) dan Lawrence Kohlberg (1927-1988) termasuk etika deskpriptif.

2. Etika Normatif

Etika ini bersifat preskriptif (memerintahkan), tidak melukiskan secara netral, melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Lewat argumentasi-argumentasi, berdasar alasan-alasan yang kuat, prinsip-prinsip etis dirumuskan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktik. Etika normatif dapat dibedakan dalam etika umum dan etika khusus yang juga dinamakan etika terapan.

3. Metaetika.

Awalan meta-(Yun) mempunyai arti “melebihi”. Istilah ini menunjukan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan bahasa yang dipergunakan di bidang moral. Metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan atau pertanyaan etis. Disini, seperti pada etika deskriptif, peneliti bersikap netral terhadap setiap posisi moral. Keterkaitan dengan filsafat analitis, salah satu pelopornya George Moore (1873-1958), yang menganggap analisis bahasa merupakan tugas terpenting bagi filsafat, membuat metaetika disebut juga etika analitis. Jika kita berbicara tentang bahasa moral, dengan mudah sekali pembicaraan kita beralih ke apa yang ditunjukan oleh bahasa itu, yaitu perilaku moral itu sendiri. Karena itu sulit ditarik garis batas yang tajam antara etika normatif dan metaetika.

Metaetika dan etika deskriptif merupakan pendekatan non-normatif. Etika deskriptif sendiri merupakan pendekatan non-filosofis. Sedangkan pendekatan filosofis terdiri dari etika normatif dan metaetika.

Pengertian Etika

Kata “etika” berasal dari bahasa Yunani, ethos yang artinya “sifat” atau “adat kebiasaan”. Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) .

Kata “moral” berasal dari bahasa Latin, mos (jamak mores), sebenarnya memiliki arti yang sama dengan “etika” . Moral adalah: 1. ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban; sinonim dengan akhlak, budi pekerti, susila; 2. kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan; 3. ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.

Kamus tersebut mengartikan “moralitas” secara sempit, sebagai sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. Menurut Bertens, ketika kita berbicara tentang “moralitas suatu perbuatan” maksudnya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. “Moralitas” adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Apa yang disebut amoral, tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis, non-moral; dibedakan dari immoral, yang maksudnya bertentangan dengan moralitas yang baik, atau secara moral buruk, tidak etis.

Walau pada dasarnya “etika” sama artinya dengan “moral”, kedua istilah tersebut sering dibedakan penggunaannya. Istilah “etika” lebih menunjuk pada pemikiran kritis atau filsafat, bersifat konseptual, yang mempersoalkan mengapa; sedangkan istilah “moral” menyangkut ajaran atau peraturan, yang mengedepankan persoalan bagaimana harus berbuat dengan menetapkan boleh atau tidaknya suatu perbuatan itu dilakukan. Singkatnya, etika adalah prinsip-prinsip moral.

h1

Kathina ITBC

October 4, 2010
ITBC

Kathina ITBC

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambhuddhasa….3x

Saudara/i sedhamma yang berbahagia,Dayakasabba Indonesia Theravada Buddhist Centre (ITBC) Jl. Boulevadt Utara No. 1 – Komplek Perumahan Cemara Asri – Medan – Sumatera Utara. akan mengadakan sangha dana dibulan Kathina pada :

Hari : Minggu malam
Tanggal : 24 Oktober 2010
Pukul : 19.00 – selesai WIB

Hari kathina merupakan salah salah satu bagian dari hari raya di agama Buddha, yang mana hari ini berkaitan dengan para anggota sangha yang telah menyelesaikan masa Vassavasso (musim penghujan). hari kathina juga merupakan kesempatan baik tentunya bagi umat Buddha khususnya yang mau berdana dan menyokong untuk kelangsungan dan kelestarian sangha. kita tau bawasannya bedana adalah salah satu praktek atau ajaran Buddha yang paling mendasar, memberikan dana kepada sangha sama halnya kita sudah menjaga dan berupaya untuk melestarikan dhamma (Sabba Danam Dhamma Danam Jinati), kita tau dengan keberadaan sangha dhamma ajaran sang Buddha ada hingga saat ini. Berdana adalah bentuk kebajikan yang tiada taranya dengan mengembangkan berdana kita akan memperoleh “AYU VANNO SUKKHAM BALAM” (Panjang umur, kecantikan/ ketampanan, kebahagiaan dan kekuatan)

Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitta
semoga semua maklhuk hidup berbahagia……

h1

Kesabaran, Siapa Takut…..!!!

September 21, 2010



Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
Melatih kesabaran adalah cara bertapa yang tertinggi
(Ovādapāṭimokkhadipāṭhā)

Melatih untuk membina diri sesungguhnya ada pada dalam keseharian kita. Melatih diri bukanlah sesuatu yang dimengerti bahwa; harus dilatih di tempat2 suci, tempat2 sakral, vihara atau ditempat2 tertentu saja. Tetapi justru didalam kehidupan dan aktifitas sehari2 kitalah yg mempunyai peran aktif serta peningkatan latihan kita masing-masing.

Salah satu pesan nasehat yang sangat penting dalam perkembangan Buddhasasana yang pernah diungkapkan sendiri oleh Sang Buddha kepada siswanya 1250 orang bhikkhu di Veluvanarama taman tupai, adalah tentang “KESABARAN”. Sesungguhnya kesabaran adalah latihan untuk membina diri yang paling tinggi. Kalau kita menghadapi atau mengalami kondisi yang menyenangkan di sekitar kita, seperti melihat orang lain berbuat baik, berkata ramah, tidak membenci, saling menyayangi, maka kita dapat bersikap sabar.

Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, menghadapi keadaan yang menyenangkan bukan sikap sabar, justru kesabaran adalah sikap yang tenang dengan dilandasi sikap yang benar. Ketika pada saat menghadapi kondisi2 yang tidak menyenangkan, seperti melihat orang lain yang berbuat jahat kepada kita, mencela, menghina, memfitnah, atau melakukan perbuatan buruk apa saja kepada kita, sesungguhnya itulah yg merupakan sikap yang baik dalam melatih kesabaran.

Ketika masalah muncul & timbul, biasanya yg muncul adalah kemarahan, dendam, kebencian, saat itulah betapa rapuhnya batin kita menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, sikap yang didorong oleh kemarahan, sesungguhnya sangat merugikan diri kita sendiri. Tampak dengan jelas tidak ada ketahanan mental dalam diri kita untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan itu.
Ada dua macam kesabaran:

1. Yang pertama,Adalah kesabaran yang paling rendah (Adikarana Khanti)

Bersabar dengan hal2 yang sederhana, dengan kondisi2 yang kecil, seperti: ketika kita saat mengalami kondisi iklim udara yang panas atau dingin, makanan yang tidak sesuai dengan selera kebiasaan kita, menunggu janji ketemuan yg tak kunjung datang2, bersabar ketika kondisi fisik kita sedang sakit, bersabar ketika sedang mengemudikan mobil di jalan,macet,dilampu merah dan bersabar menunggu ketika mendengarkan ceramah/meditasi lama yg tidak selesai2. Inilah salah satu bentuk contoh2 dari (Adikarana Khanti – Kesabaran yang relatif rendah/ biasa) Dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan itu yang mungkin masih relatif sederhana dan tergolong kecil bukan tidak mungkin akan memungkinkan diri kita untuk melatih kesabaran yang lebih tinggi.

2. Yang kedua, Adalah kesabaran yang lebih tinggi (Titikka Khanti)

Apakah yang dimaksud kesabaran yang lebih tinggi itu? Yaitu kesabaran terhadap masalah yang lebih besar.

Dalam Dhammapada (1:4) Sang Buddha bersabda:

“Akkocchi mam avadhimam

Ajini mam ahasime

Yecatam upanayhanti

Veram tesam na sammati”


Mereka yang tidak memendam di dalam dirinya (dan tidak berpikir): ’bahwa Ia telah menyiksa aku, ia telah memukuli aku, ia telah mengalahkan aku dan ia merampokku’, maka kebencian akan lenyap dari batinnya.” Inilah kesabaran yang paling tinggi.

Jadi ketika saat kita mengalami kondisi disiksa, dipukul, dihina, dicela dan dimarahi, hendaknya kita untuk selalu tetap berusaha sabar, tenang  dan tidak membalasnya atau meladeninya.  Karena kita tau bahwa kemarahan dan kebencian apabila muncul dalam batin kita tentu akan merugikan diri kita sendiri dan orang lain, serta kebencian bila dibalas kebencian tentu tidak akan pernah berakhir.

Memang kesabaran (Titikka Khanti) ini tidaklah mudah seperti apa yang kita bayangkan. Akan tetapi justru dengan adanya kondisi seperti itulah yang nantinya akan membantu kita untuk mau belajar dan mencoba agar kita tau bagaimana latihan kesabaran yang tertinggi itu. Dengan kondisi seperti itu jugalah yang nantinya akan mendewasakan serta yg menjadikan guru sejati kesabaran kita, ketika ada orang yang mengganggu kita, mencari kesalahan kelemahan kita, menghancurkan kita, menjelekkan kita, mengharapkan penderitaan dan kesengsaraan kita. Kita tetap menghadapinya dengan tenang dan tegar, tetapi apabila kalau kita menghadapinya dengan pemikiran sempit/ dangkal atau dengan emosional, tentu penyelesaian masalah akan sulit kita dapatkan, tetapi justru sebaliknya kita akan menambah masalah. Kebencian, dendam, dan sakit hati bukan menunjukkan keperkasaan, tetapi sebaliknya, menunjukkan kelemahan mental,pikiran dan batin kita saja.

Bagi orang yang melatih kesabaran akan memperoleh lima (5) manfaat:
1. Ia akan disenangi oleh orang lain;
2. Ia akan terhindar dari bahaya;
3. Ia akan terhindar dari kesalahan;
4. Pada saat ia mau meninggal dunia, ia memiliki pikiran yang tenang;
5. Setelah meninggal dunia ia akan terlahir di alam bahagia.

Ada beberapa hal renungan yang dapat membantu melatih kesabaran, yaitu:

1) mengabaikan hal tak baik tersebut (cacian, hinaan, pukulan, dll.)
2) mengenang kwalitas baik dari orang yang menyakiti kita, sehingga timbul rasa sayang
3) mengerti bahwa orang tersebut akan memetik buah yang pahit di kemudian hari (meningkatkan rasa kasihan terhadapnya).


4.) menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta itu tidak kekal, tidak abadi, berubah setiap saat. Kesulitan apapun yang kita hadapi tidaklah kekal dan tidak selamanya akan mencengkeram kita. Masalah yang menyulitkan kita datang sebentar kemudian akan berlalu. Menyadari perubahan terhadap sesuatu masalah membuat kita bertahan. Jadi, tidak ada alasan untuk patah semangat.

5.) kesulitan yang kita alami janganlah kita hadapi dengan pemikiran yg sempit. Ciptakanlah pemikiran2 yg positif setiap saat: walaupun ia telah menyiksa aku, ia telah memukuli aku, ia telah mengalahkan aku dan ia telah merampokku, ia telah membenci aku dan ia tidak simpatik kepadaku. Inilah perlu kita ketahui. Selalu dan berusaha untuk berupaya berpikir secara Dhamma, bahwa kesulitan yang terjadi adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Kesulitan dan segala macam kesalahan bukan dibuat oleh para dewa atau makhluk lain, tetapi oleh akibat dari perbuatan diri sendiri. Janganlah kita menyalahkan orang lain atas kesalahan kita tetapi salahkanlah diri kita sendiri atas kesalah orang lain. Mungkin orang yg berbuat tidak menyenangkan kepada kita itu karena tidak tau, masih blm mengerti dhamma. Hendaknya kasih sayang kita pancarkan kepadanya, maafkanlah lupakanlah semoga apa yg dilakukannya disadari dan semoga mereka bisa diperbaikinya dikemudian hari.

Dengan dua landasan pengertian inilah kita membangun kesabaran kita, memperkuat daya tahan mental kita dalam menghadapi kesulitan yang mengganggu kita. Dengan cara inilah kita melatih kesabaran. Kita berusaha tenang, batin tidak tergoyahkan meskipun masalah yang datang silih berganti. Kita harus pandai2 menggunakan kesempatan dalam keseharian kita dan meningkatkan kesabaran kita.

Kesabaran sangat diperlukan dimanapun saja karena tidak mengenal waktu dan tempat. Seseorang yang tidak cukup memiliki ketahanan mental, ia akan mudah terpengaruh melakukan perbuatan buruk.
Marilah kita melatih kesabaran. Dengan melatih kesabaran kita akan selalu memilih perbuatan yang baik. Dengan melatih kesabaran dg daya upaya benar, kita akan terhindar dari perbuatan buruk dan penderitaan . Dengan demikian kita selalu melakukan perbuatan baik dan berguna bagi masyarakat, keluarga, dan diri sendiri.

Marilah kita menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas batin kita, meningkatkan kesabaran dan daya tahan mental. Marilah kita mengisi dengan hal-hal yang berguna dengan selalu berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk serta bersihkan kekotoran batin yang ada pada batin kita. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan dalam kondisi apapun yang datang menyongsong kita dengan ketahanan mental. Hiduplah dengan penuh kesabaran, sehingga hidup kita akan selalu aman, damai, dan bahagia

Analogi…..

Bhante Rahula memulainya dengan kisah Buddha dimana Beliau dicaci maki, dihina, dan dimarahin oleh seorang perumah tangga. Buddha dengan sabar menerima cacian dan hinaan tersebut. Setelah orang tersebut selesai, Buddha berkata, “Apakah engkau telah selesai dengan cacian dan hinaanmu itu?” Dan orang tersebut menjawab, “Ya, saya telah selesai.” Kemudian Buddha bertanya, “Apakah kamu bersedia mendengar tanggapanku?” Orang tersebut menyetujuinya. Buddha bersabda:

“Bagaikan seorang tuan rumah yang menerima tamu di rumahnya,
ia akan menyediakan makanan dan minuman kepada tamunya;
akan tetapi apabila tamu tersebut tak mau menerima makanan dan minuman yang dihidangkannya, maka semua yang dihidangkan akan dengan sendirinya (kembali) menjadi milik si tuan rumah.”

“Begitu pula dengan segala cacian dan hinaan;
Segala cacian dan hinaan yang tak diterima oleh yang dicaci,
akan kembali menjadi milik si pencaci.”

Itulah sabda Buddha yang menunjukan bahwa seorang yang suci tak dapat digoyahkan oleh cacian, makian, dan hinaan. Kita pengikut ajaran Beliau juga seharusnya mencontohi sifat mulia Beliau.

Kemudian Bhante mengutip kisah Bhikkhu Punna yang merupakan seorang arahat yang memiliki kesabaran yang luar biasa. Bhante Punna berkehendak pergi merantau jauh membabarkan Dhamma. Akan tetapi Buddha menasehatinya untuk berhati-hati karena daerah yang ia pilih tersebut didiami oleh banyak orang kasar. Berikut adalah ringkasan percakapan tersebut:

Buddha: “Tetapi Punna, orang-orang sana sangatlah kasar perilakunya.”
Bhante Punna: “Biarlah, O Bhagava; mereka itu baik karena biarpun kasar mereka tak memukulku.”
Buddha: “Bagaimana kalau mereka memukulmu?”
Bhante Punna: “Biarlah, O Bhagava; mereka itu baik karena biarpun mereka memukulku, mereka tak memotongku.”
Buddha: “Bagaimana kalau mereka memotongmu?”
Bhante Punna: “Biarlah, O Bhagava; mereka itu baik karena biarpun mereka memotongku, mereka tak membunuhku.”

Mendengar jawaban Bhikkhu Punna, Buddha berkata, “Bagus, bagus sekali, Punna. Engkaulah yang paling sesuai untuk menyebarkan Dhamma di sana. Sebarkanlah Dhamma yang indah ini di negeri sana.”

h1

Bahasa Tubuh Dan Bahasa Dhamma

September 18, 2010

Bahasa Tubuh Dan Bahasa Dhamma


Menurut para ahli sejarah, seseorang itu dapat dikatakan sebagai orang baik atau tidak, nanti kalau sudah mati. Pada saat hari kematiannya itulah akan menjadi cermin bagi seseorang dikatakan baik atau tidak sepanjang perjalanan hidupnya. Artinya perhatian dan penghormatan yang diberikan oleh sanak keluarga, kerabat jauh atau dekat, pengakuan dari warga masyarakat, serta penghargaan dari bangsa dan negara, terhadap seseorang pada hari kematiannya itulah dapat menjadi ukuran seberapa besar kebaikan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Semakin besar jasa kebajikannya, semakin besar pula perhatian, penghormatan, pengakuan dan penghargaan ditujukan kepadanya.

Lain dengan pendapat para ahli ilmu kemanusiaan. Para ahli ilmu kemanusiaan menyanggah pendapat ahli sejarah, bahwa seseorang dapat dinilai sebagai orang baik atau tidak nanti sesudah meninggal dunia, pernyataan itu tidak seluruhnya tepat, benar dan pasti. Sebab kalau kebaikan seseorang hanya dapat dilihat apabila nanti setelah ia meninggal dunia, kemudian bagaimana dengan seseorang yang masih hidup dan apa yang dapat untuk dinilai dalam perjalanan hidupnya sebagai orang baik atau tidak ?

Maka menurut para ahli ilmu kemanusiaan, seseorang dinilai sebagai orang baik atau jahat, dapat diamati melalui pola pikir, gaya hidup, dan kecenderungannya. Dalam bahasa seni hidup kemanusiaan, atau menurut bahasa tubuh dalam ilmu kejiwaan, sekurang-kurangnya terdapat tiga hal bisa dijadikan alat bantu untuk mengukur seseorang itu baik atau tidak. Rumusnya sebagai berikut, pertama miraga, kedua mirama, dan ketiga mirasa .

1.Miraga, meliputi hal-hal yang bersifat fisik, jasmaniah. Artinya secara lahiriah dapat dilihat dengan mata terbuka secara nyata. Pendek kata bagaimana cara menata diri. Ini semua merupakan pantulan dari dalam lubuk hatinya.

2.Mirama, adalah hal-hal yang mengandung unsur gerak. Artinya gerak gerik tubuh, maupun anggota badan jasmani. Dapat dilihat dari bagaimana seseorang cara berjalan, cara duduk, cara makan, cara tertawa, cara tidur. Singkatnya saja seluruh gerak gerik anggota tubuh menggambarkan watak dan kecenderungan perilaku seseorang.

3.Mirasa, artinya jalan pikiran, termasuk cara bicara dan apa yang dibicarakannya. Dari cara bicara seseorang bisa dengan mudah diprakirakan termasuk golongan kaum terpelajar atau kaum kurang ajar. Adapun menurut bahasa Dhamma, mano kamma, vaci kamma, dan kaya kamma. Seseorang terpuji maupun tercela adalah berasal dari apa yang ia lakukan, ia ucapkan, dan apa yang ia pikirkan.

Pesan para ahli kemanusiaan, untuk menyimpulkan seseorang itu baik atau tidak, hendaknya dilihat dari semua sisi dengan teliti dan telaten. Sebab banyak kebaikan ditunjukkan oleh seseorang akan tetapi segera ternyata, kebaikannya itu untuk menutupi kejahatannya. Atau sebaliknya menurut ukuran dari satu sisi orang itu jelas-jelas culas jelek dan jahat, akan tetapi bila dilihat dari sisi lain ternyata positif, menunjukkan angka-angka besar bernilai kebaikan. Oleh karena itu menurut para ahli ilmu kemanusiaan, tiga aspek tersebut itu tadi merupakan cermin pribadi seseorang tanpa kecuali. Melalui tiga aspek itu pula dapat dinilai sejauh mana kebaikan maupun kejahatan seseorang dalam dirinya.

Sungguh obyektif pesan Dhamma, lihatlah segala sesuatu itu dari sisi yang berbeda sekalipun dengan jelas, dan lihatlah sesuatu itu apa adanya, jangan hanya dilihat apa nampaknya. Kata Buddha, segala sesuatu yang dilihat dari sisi yang berbeda dengan jelas, teliti dan telaten, akan menghasilkan sebuah kesimpulan spektakuler, bukan hanya merupakan sebuah keputusan sepihak dari satu sisi bersifat popular.

Cermin kepribadian dalam beragama

Ternyata banyak juga yang masih belum paham betul arti sesungguhnya apa yang dimaksud sebagai pemeluk agama atau pengikut agama. Sehingga membingungkan juga orang-orang yang nampaknya sudah beragama itu, tetapi pola pikir, gaya hidup dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai umat beragama. Ada perbedaan cukup jelas bahwa meskipun sudah sebagai pemeluk agama belum tentu ia sebagai pengikut agama yang dianutnya. Yang dimaksud pengikut adalah mereka yang mendengar nasehat-nasehat, mengikuti petunjuk-petunjuk, serta meniru perilaku para pendiri agama yang dianutnya. Tetapi pemeluk, meskipun sudah memeluk, belum tentu mengikuti petunjuk-petunjuknya, meniru perilaku pendiri agamanya. Untuk itu, meskipun sebagai pemeluk, belum tentu sekaligus sebagai pengikut. Misalnya, Sang Buddha telah meninggalkan bentuk keakuan, atau kekuasaan. Sementara umat-umatnya malah sibuk mencari apa saja yang sudah ditinggalkan oleh Sang Buddha, ke-Aku-an dan kekuasaan.

Selain miraga, mirama, dan mirasa, bagaimana mengukur tinggi rendahnya kadar keimanan umat beragama. Terdapat tiga hal paling tidak bisa menjadi tolok ukur tinggi rendahnya kadar keimanan seseorang dalam beragama secara individu maupun sosial. Tiga hal dimaksud adalah, pertama menjadi umat beragama di tempat ibadah, kedua menjadi umat beragama di rumah, dan ketiga menjadi umat beragama di masyarakat. Pada umumnya belum semua umat beragama dapat mewujudkan tiga aspek hidup beragama di tempat ibadah, di rumah, dan di masyarakat, dengan penuh rasa tanggung jawab secara pribadi, ataupun terhadap keluarganya.

Ada saja seseorang dalam beragama hanya aktif di tempat ibadah, di rumah, atau di masyarakat. Sehingga tidak sedikit para pemuka agama yang amat menonjol di masyarakat akan tetapi keluarganya sendiri justru tidak terurus dengan baik secara agama. Anak pertama pemabuk, anak yang kedua penyabung ayam. Anak ketiga penjudi, sedangkan perilaku anak keempat dan seterusnya semua yang terlarang diterjang. Atau ada seseorang yang bukan main tekunnya ibadah di rumah, bahkan tidak pernah putus (barang satu menit) hubungannya dengan tuhannya, tetapi bertahun-tahun bicara dengan gaya bahasa tidak baku terhadap ayah dan ibu kandung sendiri, dan tidak saling tegur sapa dengan mertuanya yang memberi istri. Karena itu adalah umat beragama paling ideal terpuji kualitas tinggi, apabila bisa menerapkan ketiga cara beragama tersebut secara simultan dan pasti dalam hidup sehari-hari.

Dalam pandangan agama-agama, dan terutama menurut pandangan Buddhis terdapat empat tingkat pola dasar pendidikan moral yang amat berpengaruh pada pembentukan watak jiwa kepribadian seseorang dalam beragama. Empat hal tersebut adalah : etika, estetika, dogma, dan keempat doktrin.

1. Etika : adalah meliputi budi pekerti, sopan santun, tata krama dalam pergaulan.

2. Estetika : meliputi aspek-aspek keindahan seni.

3. Dogma : dimaksud di sini adalah cara menumbuhkan hakekat keyakinan melalui tahu, mengerti dan mengalami sendiri.

4. Doktrin : di sini adalah hal-hal yang serba logika.

    Dalam bahasa Dhamma, dana, sila, samadhi dan pañña. Dari dana, sila, samadhi yang utuh, sebagai wujud nyata dari kerelaan peduli, terhadap orang lain secara santun penuh cinta kasih dan kasih sayang. Memberi karena welas, dan tidak menuntut dibalas. Menjadi manusia yang penuh metta dan pañña seimbang.

    Akan tetapi kaum intelek mengatakan agama Buddha anti dogma, yang harus diajarkan adalah hal-hal yang bersifat doktriner imajiner saja, dogma adalah fanatik sempit. Dari cara pandang itu, akibatnya, banyak umat Buddha yang serba logika, tapi lupa akan nilai-nilai etika. Lantaran kurang peduli dengan keindahan seni, pergi ibadah pakai baju mini. Padahal dari dogma yang berdasarkan tahu, mengerti, dan mengalami sendiri akan timbul dari keyakinan yang tidak mudah goyah secara kontekstual.

    Kalau saja ketiga-tiganya dapat ditanamkan sejak dini kepada anak-anak didik, terhadap umat-umat beragama, dan kepada masyarakat luas. Pasti dapat diharapkan pertumbuhan anak-anak kelak tahu sopan santun, mengerti budi pekerti, bisa praktek tata krama. Perkembangan umat beragama akan menjadi mantap tidak mudah goyah, meyakini agama sendiri yang terbaik, tidak dengan menjelek-jelekkan agamanya orang lain. Perilaku masyarakat akan mencerminkan watak penuh kepedulian sosial yang merata, serta bisa melestarikan keindahan lingkungannya.

    h1

    SONADANDA SUTTA

    September 3, 2010

    Demikian yang telah kami dengar:

    1. Pada suatu waktu Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu, sebanyak 500 bhikkhu, sedang dalam perjalanan melalui daerah Anga, tiba di Campa. Di Campa, beliau menginap di tepi danau Gaggara. Pada waktu itu Brahmana Sonadanda tinggal di Campa, tempat yang ramai, banyak rumput, pohon, air dan gundum, yang diberikan kepadanya oleh Raja Bimbisara dari Magadha, sebagai hadiah kerajaan dan berkuasa bagaikan raja.
    2. Para brahmana dan penduduk Campa mendengar berita: “Petapa Gotama dari suku Sakya, yang telah meninggalkan suku Sakya dan menjadi petapa, sedang mengembara di daerah Anga bersama sejumlah besar bhikkhu, sebanyak 500 bhikkhu, telah tiba di Campa dan menginap di tepi danau Gaggara. Sehubungan dengan petapa Gotama, telah tersiar berita baik: ‘Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya, sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar dan Mulia.’ Ia mengajar dengan pengetahuan yang direalisasikannya sendiri kepada dunia ini yang meliputi para dewa, para mara, para dewa Brahma, para petapa, para brahmana, para raja dan orang-orang lain. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan-suci (brahmacari) yang sempurna dan suci. Sungguh baik bila menemui arahat seperti itu.”
      Berdasarkan hal ini maka para brahmana dan para penduduk, dalam jumlah yang besar, meninggalkan Campa dan pergi ke tepi danau Gaggara.

    1. Ketika itu Brahmana Sonadanda berada di teras atas rumahnya untuk istirahat dan ia melihat orang-orang yang pergi, maka ia bertanya kepada pembantunya: “Mengapa orang-orang Campa pergi seperti ini ke arah danau Gaggara?”
      Pembantu menceritakan sebabnya. Lalu ia berkata: “Baiklah, temui para brahmana dan penduduk Campa, katakan kepada mereka : Brahmana Sonadanda ingin kamu sekalian menunggunya. Ia sendiri akan pergi menemui Samana Gotama.”
      “Baiklah,” jawab pembantu dan melakukannya.

    1. Pada waktu itu lima ratus orang brahmana dari berbagai daerah sedang berada di Campa untuk berbagai urusan, mereka mendengar bahwa Brahmana Sonadanda ingin menemui Samana Gotama. Maka mereka menemuinya dan menanyakan apakah berita itu benar. “Begitulah, saudara-saudara, saya akan pergi menemui Samana Gotama.”
      “Saudara, jangan pergi menemui Samana Gotama. Tidak pantas bagi anda untuk pergi menemuinya. Jika anda pergi menemui Samana Gotama, reputasi anda akan berkurang, sedangkan reputasi Samana Gotama akan bertambah. Karena itu, maka tidak pantas bagi anda untuk pergi menemui Samana Gotama, ia yang layak datang menemuimu.”

    1. Mereka juga menyampaikan beberapa pertimbangan lain kepada brahmana Sonadanda, seperti: “Anda telah dilahirkan dari ke dua belah pihak keturunan yang baik, turunan murni tanpa putus dari tujuh generasi dan tanpa cacat. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda adalah ahli, mengetahui mantra-mantra, menguasai Tevijja, ahli menerangkan peraturan-peraturan dan upacara-upacara, ahli suara-suara dan makna-maknanya, yang kelima adalah menjelaskan dengan rinci tentang tradisi, menguasai dengan baik mengenai filsafat alam (Lokayata) dan ciri-ciri manusia besar (Mahapurisa lakkhana). Karena itu, maka tidak pantas . ..
      Anda adalah tampan, menyenangkan dilihat, berpenampilan meyakinkan, memiliki kecakapan yang mengagumkan, berpenampilan seperti Brahma dan mempesona. Karena itu, maka tidak pantas …
      Anda bermoral, sangat bermoral dan memiliki moral tinggi. Karena itu maka tidak pantas ….
      Anda pintar berceramah, ahli berkhotbah, memiliki kemampuan berpidato yang mengagumkan, tanpa salah dan menerangkan arti dengan jelas. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda adalah guru dari para guru, mendidik tiga ratus brahmana untuk menghafalkan mantra-mantra, dan banyak brahmana muda dari berbagai penjuru dan daerah yang semuanya ingin belajar mantra, datang belajar pada anda. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda telah berumur, tua dan berusia lanjut, berusia panjang dan bepengalaman. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda dihormati, dipuji, dipuja, dimuliakan dan dijunjung tinggi oleh Raja Magadha, Seniya Bimbisara. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda dihormati, dipuji, dipuja, dimuliakan dan dijunjung tinggi oleh brahmana Pokkharasadi. Karena itu, maka tidak pantas ….
      Anda tinggal di Campa banyak ternak rumput, pohon, dan gandum, sebagai penguasa dan berhak penuh pada daerah itu bagaikan raja yang dilimpahkan kepadanya oleh Raja Bimbisara. Karena itu, maka tidak pantas anda untuk pergi menemui Samana Gotama, ia yang layak datang menemuimu.”
    2. Ketika mereka telah berkata begitu, Sonadanda berkata kepada mereka: “Saudara-saudara, dengar dan perhatikan mengapa pantas bagi saya menemui Samana Gotama, dan bukan ia yang mengunjungi saya ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama telah dilahirkan dengan sempurna dari kedua belah pihak, turunan sempurna dari ibu dan ayah sejak tujuh turunan, tanpa cacad sedikitpun untuknya dan kelahirannya tanpa hal yang dapat dikritik …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama telah meninggalkan kehidupan berumah-tangga (pabbajja), meninggalkan keluarga besarnya …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama telah meningalkan kehidupan berumah-tangga, meninggalkan uang dan emas yang banyak, harta yang disimpan dalam tanah dan di atas tanah …
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama, masih muda, tanpa uban di kepalanya, diliputi keremajaan, telah meninggalkan kehidupan berumah tangga lalu hidup tanpa berkeluarga …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama, walaupun ayah dan ibunya tidak setuju, menangis, pipi mereka dibasahi air mata, namun ia memotong rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan berumah-tangga lalu hidup tanpa berkeluarga ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama adalah tampan, menyenangkan dilihat, memiliki karisma, memiliki kecakapan yang mengagumkan, berpenampilan yang mempesona, kehadirannya menyenangkan, mempesona, …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama bermoral dengan ariya sila, memiliki kebaikan dan sila ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama memiliki suara yang menyenangkan, pintar berkhotbah, penceramah yang sopan, jelas, jernih suaranya, topik dijelaskan dengan rinci …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama adalah guru dari para guru …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama tak memiliki sedikit nafsu pun, ia telah melenyapkan semua kotoran batin ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama meyakini ajaran karma (kammavadi), ajaran perbuatan (kiriyavadi), ia adalah seorang yang membabarkan kebenaran di depan para brahmana …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama telah meninggalkan keluarga yang terhormat, para kesatriya …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama telah meninggalkan keluarga yang makmur dan kaya raya ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya banyak sekali orang datang dari berbagai penjuru untuk bertanya kepada Samana Gotama ……
      Saudara-saudara, berkelompok-kelompok ribuan dewa berlindung kepada Samana Gotama …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya berita baik tentang Samana Gotama telah tersebar: ‘Demikianlah Sang Bhagava, yang maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, sempurna menempuh jalan (mencapai nibbana), pengenal semua alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, Buddha, Bhagava,’ ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama memiliki ke semua tiga puluh dua tanda Manusia Agung (Mahapurisalakkhana) …
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama menyambut dengan baik semua orang yang datang, menyenangkan, pendamai, rendah hati, dapat ditemui siapa saja, berbicara dengan jujur …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama dipuja, dipuji dan dihormati oleh empat kelompok (upasaka, upasika, bhikkhu dan bhikkhuni), ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya para dewa dan manusia mempercayainya, ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya di kota dan desa mana saja Samana Gotama tinggal, makhluk-makhluk halus yang ada di kota dan desa itu tidak mengganggu manusia …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama mengepalai sangha, kelompok, sebagai guru dari sebuah kelompok, diketahui sebagai kepala dari semua pendiri ajaran (sekte). Banyak samana dan brahmana yang mendapat reputasi baik karena hal-hal yang sepele, namun Samana Gotama tidak demikian. Reputasinya dihasilkan oleh kesempurnaan pengetahuan dan tindak-tanduknya (vijja-carana-sampadaya) …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Raja Bimbisara dari kerajaan Magadha, bersama para permaisuri, pangeran dan putrinya, para bangsawan dan rakyatnya telah berlindung pada Samana Gotama …..
      Saudara-saudara, sesungguhnya Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala, bersama para permaisuri, pangeran dan putrinya, para bangsawan dan rakyatnya telah berlindung pada Samana Gotama ……
      Saudara-saudara, sesungguhnya Brahmana Pokkharasadi bersama para istri dan anak-anaknya, para sahabat dan para pembantunya telah berlindung pada Samana Gotama ….
      Saudara-saudara, sesungguhnya Samana Gotama dipuja, dipuji dan dihormati oleh Raja Bimbisara dari Magadha, Raja Pasenadi dari Kosala serta Brahmana Pokkharasadi ……
      Saudara-saudara, sesungguhnya sekarang Samana Gotama telah tiba di Campa, dan berada di tepi danau Gaggara. Sebagaimana semua samana dan brahmana yang memasuki perbatasan perkampungan kita merupakan tamu kita. Para tamu kita sambut, layani, hormati dan puji. Demikian pula sekarang ia telah datang, ia patut dilayani sebagai tamu …..
      Setiap dan semua pertimbangan ini adalah tidak menunjukkan bahwa tidak tepat bila Samana Gotama mengunjungi kita, tetapi adalah tepat bila kita yang pergi menemui beliau. Hanya sebegitu jauh yang saya tahu mengenai keistimewaan Samana Gotama, tetapi ini pun belum semuanya, karena keistimewaannya adalah tidak terukur.”
    3. Setelah ia berkata demikian, para brahmana berkata kepadanya “Sonadanda yang mulia telah menyatakan pujian yang begitu rupa tentang Samana Gotama, bagaikan ia berada kira-kira 100 yojana dari sini dan yang cukup bagi seseorang berkeyakinan pergi menemuinya, walaupun ia itu pergi dengan membawa beban di bahunya. Marilah kita semua bersama-sama pergi menemui Samana Gotama.”
      Demikianlah, Brahmana Sonadanda bersama sejumlah besar brahmana pergi ke danau Gaggara.
    4. Kemudian suatu keraguan muncul dalam pikiran Sonadanda ketika sedang melintas hutan: “Jika saya menanyakan pertanyaan kepada Samana Gotama, ia akan berkata: ‘Pertanyaannya bukan ditanyakan seperti itu, pertanyaannya harus sistimatis,’ maka orang-orang yang ada akan berkata tidak sopan kepadaku dengan berucap: ‘Brahmana Sonadanda tolol dan tidak berpendidikan. Ia tidak sanggup menanyakan sebuah pertanyaan dengan benar.’ Jika mereka berbuat seperti itu maka reputasiku menurun; dengan reputasiku seperti itu, maka pendapatanku menyusut, karena untuk senang itu tergantung pada reputasi. Namun, bila Samana Gotama bertanya padaku, saya mungkin tidak akan mendapat persetujuannya karena jawabanku. Jika orang-orang yang ada berkata kepadaku: ‘Pertanyaan tidak dijawab seperti itu; masalahnya harus diterangkan,’ karena hal itu, maka orang-orang akan berkata dengan tidak sopan kepadaku: ‘Brahmana Sonadanda tolol dan tidak berpendidikan. Ia tidak sanggup memuaskan Samana Gotama dengan memberikan jawaban mengenai petanyaan yang diajukan.’ Jika mereka melakukan demikian maka reputasi saya akan turun; dengan reputasiku seperti itu maka pendapatanku akan menurun, karena apa yang kita nikmati adalah tergantung pada reputasi kita. Tetapi sebaliknya, jika setelah datang sejauh ini, saya pulang tanpa menemui Samana Gotama, maka kemungkinan sekali orang-orang yang datang bersama saya akan merendahkan saya dengan berkata: ‘Brahmana Sonadanda ini tolol, tidak berpendidikan, keras kepala dengan kesombongan, ia sangat takut sehingga ia tidak berani menemui Samana Gotama. Mengapa ia berbalik setelah berjalan sejauh ini?’ Jika mereka melakukan hal itu, reputasi saya akan menurun; dengan reputasi seperti itu, pendapatan saya akan berkurang. Karena apa yang kita nikmati, tergantung pada reputasi kita.”
    5. Akhirnya Brahmana Sonadanda tiba di tempat Sang Bhagava.
      Setelah tiba, ia dan Sang Bhagava saling memberi salam dengan kata-kata sopan dan hormat, setelah itu ia duduk di tempat yang telah tersedia. Sedangkan para brahmana dan penduduk Campa; ada yang membungkuk kepada Sang Bhagava lalu duduk; ada yang saling memberi salam kepada Sang Bhagava dengan kata-kata sopan dan hormat, lalu duduk; ada yang menyebutkan nama mereka dan nama keluarga mereka lalu duduk; sedangkan yang lain dengan diam-diam langsung duduk.
    6. Pada saat itu, Sonadanda sedang duduk dengan pikiran yang ragu-ragu, dengan pikiran seperti yang muncul dalam perjalanan; dan ia menambahkan: “Oh! Apakah Samana Gotama akan menanyakan padaku beberapa pertanyaan tentang kemampuanku tentang Tevijja. Dengan begini, saya akan dapat mendapatkan persetujuan tentang keterangan jawabannya mengenai pertanyaannya.”
    7. Pada saat itu pula, Sang Bhagava mengetahui dengan pikirannya mengenai keragu-raguan yang ada dalam pikiran Sonadanda, dan ia berpikir: “Sonadanda sedang berpikir. Sebaiknya saya menanyakan sebuah pertanyaan tentang ajarannya.” Lalu ia berkata kepadanya: “Brahmana, apakah hal yang harus dimiliki oleh seorang brahmana sehingga ia dapat berkata: ‘Saya brahmana,’ pernyataan ini adalah benar dan ia tidak merasa bersalah karena ia tidak berbohong?”
    8. Sonadanda berpikir: “Apa yang saya mau, ingin, pikir dan harapkan bahwa Samana Gotama akan menanyakan sesuatu mengenai kemampuanku mengenai Tevijja itulah yang ia tanyakan. Oh! Keteranganku akan dapat menyenangkan hatinya!”
    9. Dengan menegakkan badannya serta melihat para hadirin di sekitarnya, ia berkata kepada Sang Bhagava: “Gotama, para brahmana menyatakan dirinya seorang brahmana yang dengan tepat mengatakan ‘Saya brahmana’ tanpa merasa bersalah karena ia tidak berbohong, yang memiliki lima hal. Apakah lima hal itu? Pertama, seorang brahmana terlahir dengan baik dari kedua sisi orang tuanya, sejak tujuh generasi, tanpa noda maupun cacad atau pun hal yang dapat dikritik mengenai kelahirannya ….
      Ia seorang yang mengetahui dan pengucap mantra-mantra, menguasai Tevijja, ahli menerangkan peraturan-peraturan dan upacara-upacara, ahli suara-suara dan makna-maknanya sebagai yang keempat, yang kelima adalah menjelaskan dengan rinci tentang tradisi, menguasai dengan baik mengenai filsafat alam (Lokayata) dan ciri-ciri manusia-besar (Mahapurisa lakkhana) ….
      Ia tampan, menyenangkan dilihat, memiliki karisma, memiliki kecakapan yang mengagumkan, berpenampilan yang mempesona, kehadirannya menyenangkan, mempesona, ….
      Ia bermoral (sila), silanya dikembangkannya, silanya maju dengan baik sekali ….
      Sebagai yang pertama atau kedua, ia terpelajar dan bijaksana dalam upacara pemujaan pada api.
      Gotama, inilah lima hal yang dimiliki oleh para brahmana sehingga seorang brahmana dapat menyatakan dengan tepat ‘Saya brahmana,’ pernyataan ini benar dan tanpa merasa bersalah karena ia tidak berbohong.”
    10. “Brahmana, dapatkah dari lima hal itu salah satu dikeluarkan, namun dengan empat hal saja seseorang masih dinyatakan sebagai brahmana; pernyataan ini benar serta tanpa merasa bersalah karena ia tidak berbohong ketika menyatakan ia seorang brahmana?”
      “Ya, Gotama, itu dapat dilakukan. Kita dapat mengeluarkan Vanna (Varna). Karena apa yang dapat dilakukan oleh Vanna? Jika kita telah memiliki empat hal kelahiran yang baik, latihan teknis, sila dan kebijaksanaan, sebagai yang keempat para brahmana tetap akan menyatakan dia sebagai brahmana; ia benar dan tanpa bahaya dari berbohong, menyatakan tentang dirinya itu.”
    11. “Brahmana, dapatkah dari empat hal itu salah satu dikeluarkan, namun dengan tiga hal saja seseorang masih dinyatakan sebagai brahmana; pernyataan ini benar tanpa merasa bersalah karena ia tidak berbohong ketika menyatakan ia seorang brahmana?”
      “Ya, Gotama, itu dapat dilakukan. Kita dapat mengeluarkan mantra, karena apa yang dapat dilakukan oleh mantra? Jika kita telah memiliki tiga hal kelahiran yang baik, sila dan kebijaksanaan para brahmana tetap akan menyatakan dia sebagai brahmana; ia benar dan tanpa bahaya dari berbohong, menyatakan tentang dirinya itu.”
    12. “Brahmana, dapatkah dari tiga hal itu salah satu dikeluarkan, namun dengan dua hal itu saja seseorang masih dinyatakan sebagai brahmana; pernyataan ini benar tanpa merasa bersalah karena ia tidak berbohong ketika menyatakan ia seorang brahmana?”
      “Ya, Gotama, itu dapat dilakukan. Kita dapat mengeluarkan kelahiran, karena apa yang dapat dilakukan oleh kelahiran? Jika kita telah memiliki dua hal sila dan kebijaksanaan para brahmana tetap akan menyatakan dia sebagai brahmana; ia benar dan tanpa bahaya dari berbohong, menyatakan tentang dirinya itu.”
    13. Ketika ia selesai berkata begitu, para brahmana yang lain berkata kepada Sonadanda: “Sonadanda yang terhormat, jangan berkata begitu. la tidak hanya merendahkan Vanna kami, namun ia merendahkan mantra dan kelahiran kami. Sesungguhnya, Sonadanda yang terhormat, cenderung miring ke arah ajaran Samana Gotama.”
    14. Lalu Sang Bhagava berkata kepada para brahmana: “Para brahmana, jika anda sekalian berpendapat bahwa Sonadanda tidak terpelajar, ia berkata tidak tepat, ia tidak bijaksana, ia tidak dapat mempertahankan pandangannya mengenai hal ini dengan saya, maka sebaiknya ia diam dan anda sekalian berdiskusi dengan saya. Namun, bilamana anda sekalian berpendapat bahwa ia terpelajar, dapat berbicara, bijaksana dan dapat mempertahankan pandangannya, maka anda sekalian diam dan biarkan ia berdiskusi dengan saya.”
    15. Setelah beliau berkata demikian, brahmana Sonadanda berkata kepada para brahmana itu: “Janganlah anda sekalian yang terhormat berkata begitu. Janganlah berkata begitu, saudara-saudara. Saya tidak merendahkan vanna, mantra maupun kelahiran kita.”
    16. Pada waktu itu, seorang brahmana muda bernama Angaka, putra dari saudara wanita brahmana Sonadanda, sedang duduk di antara para brahmana, Sonadanda berkata kepada para brahmana: “Apakah anda yang terhormat melihat kemenakan kita, Angaka?”
      “Ya, kami melihatnya.”
      “Saudara-saudara, Angaka tampan, menyenangkan dilihat, berpenampilan meyakinkan, memiliki kecakapan yang mengagumkan, berpenampilan seperti Brahma dan mempesona tak seorang pun di antara para hadirin yang menyamainya dalam hal penampilan, kecuali Samana Gotama.
      Saudara-saudara, Angaka adalah ahli, mengetahui mantra-mantra, menguasai Tevijja, ahli menerangkan peraturan-peraturan dan upacara-upacara, ahli suara-suara dan makna-maknanya, yang kelima adalah menjelaskan dengan rinci tentang tradisi, menguasai dengan baik mengenai Lokayata dan Mahapurisa lakkhana, saya sendiri telah mengajarkan mantra-mantra ini.
      Saudara-saudara, Angaka telah dilahirkan dari ke dua belah pihak keturunan yang baik, turunan murni tanpa putus dari tujuh generasi, tanpa cacat dan tanpa hal yang dapat dikritik mengenai garis keturunannya saya sendiri mengetahui nenek-moyangnya, dari pihak ibu maupun ayah.
      Saudara-saudara, jika Angaka membunuh makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, berdusta dan minum minuman yang memabukkan, maka apakah yang dapat dilakukan oleh vanna, mantra dan kelahiran?
      Saudara-saudara, selama seorang brahmana bermoral, silanya dikembangkannya, silanya maju dengan baik sekali; selama ia berpendidikan dan bijaksana, sebagai yang pertama atau kedua, di antara mereka yang melakukan upacara api, maka para brahmana akan menyatakan dia, karena memiliki dua kualitas ini, sebagai seorang brahmana, menjadi seseorang yang dengan tepat menyatakan ‘saya seorang brahmana’, tanpa merasa bersalah karena ia menyatakan hal itu.”
    17. “Brahmana, dapatkah dari dua hal itu salah satu dikeluarkan, sehingga hanya dengan satu hal itu saja seseorang masih dinyatakan sebagai brahmana; pernyataan ini benar tanpa merasa bersalah karena ia tidak berbohong ketika menyatakan ia seorang brahmana?”
      “Tidak, Gotama! Karena kebijaksanaan (panna) disucikan oleh sila, sebaliknya sila disucikan oleh kebijaksanaan. Di mana ada sila, di situ ada kebijaksanaan. Bagi yang memiliki sila ada kebijaksanaan, yang bijaksana ada sila, kebijaksanaan dan sila dinyatakan sebagai hal yang terbaik di dunia. Gotama, bagaikan seseorang yang mencuci tangannya dengan tangan, atau mencuci kaki dengan kaki, begitu pula kebijaksanaan disucikan oleh sila, dan sila disucikan oleh kebijaksanaan. Di mana ada sila, di situ ada kebijaksanaan; di mana ada kebijaksanaan, di situ ada sila. Bagi yang memiliki sila ada kebijaksanaan, yang bijaksana ada sila, kebijaksanaan dan sila dinyatakan sebagai hal yang terbaik di dunia.”
    18. “Brahmana, begitulah. Saya juga mengatakan yang sama. Tetapi apakah sila dan kebijaksanaan itu?”
      “Gotama, kami hanya mengetahui pernyataan umumnya saja. Semoga Gotama yang mulia dengan senang hati menerangkan ungkapan ini.”
      “Brahmana, baiklah, dengarkanlah dan perhatikan dengan baik, saya akan bicara.”
      “Baiklah,” jawab Sonadanda, menyetujui Sang Bhagava. Sang Bhagava berkata: “Brahmana, seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing. Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usahanya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahma; para petapa, brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan Dhamma (Kebenaran) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan cara hidup petapa (brahmacariya) yang sempurna dan suci.
      Kemudian, seorang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga-rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Hidup pabbaja adalah bebas seperti udara. Sungguh sukar bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup pabbaja.
      Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan Patimokkha (Peraturan-peraturan bhikkhu), sempurna perilaku dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya, ia memiliki perhatian murni dan pengertian jelas (sati-sampajanna); dan hidup sederhana.
      Brahmana, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya? Brahmana, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup. Inilah sila yang dimilikinya.
      Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya.
      Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan Brahmacariya (tidak kawin); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya.
      Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia.
      Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari memfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-pecah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pembicaraan. Inilah sila yang dimilikinya.
      Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar; ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya.
      Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya.
      Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh-tumbuhan. Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan diri dari menonton pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik. Ia menahan diri dari penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan. Ia menahan diri dari menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia menahan diri dari menerima emas dan perak. Ia menahan diri dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak. Ia menahan diri dari menerima daging yang belum dimasak. Ia menahan diri dari menerima wanita dan perempuan-perempuan muda. Ia menahan diri dari menerima budak-belian lelaki dan budak-belian perempuan. Ia menahan diri dari menerima biri-biri atau kambing. Ia menahan diri dari menerima babi dan ungas. Ia menahan diri dari menerima gajah, sapi dan kuda. Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian. Ia menahan diri dari berlaku sebagai duta atau pesuruh. Ia menahan diri dari membeli dan menjual. Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran. Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan menggelapkan. Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari dahan-dahanan, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas-ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuh-tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menggunakan barang-barang yang ditimbun dan disimpan, seperti: bahan makanan, minuman, jubah, perkakas-perkakas, alat-alat tidur, wangi-wangian dan bumbu makanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang disimpan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukan, seperti: tari-tarian, nyanyi-nyanyian musik, pertunjukan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang-perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke tempat lain tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan luku mainan, permainan jungkir batik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang-mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, menirukan gerak-gerik orang cacat; namun seorang bhikkhu menahan diri dari permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menggunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang, seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna-warni, selimut putih, seprei dari wol disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat digunakan oleh enam betas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup di atasnya, sofa dengan bantal merah untuk kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak menggunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri, seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak-mata (bukan obat), bunga-bungaan, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang pencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percakapan tentang wanita, percakapan tentang laki-laki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan di tempat-tempat pengambilan air, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa brahmana hidup dari makanan yang disediakan dari umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma? Bagaimana seharusnya engkau mengerti Vinaya ini? Engkau menganut pandangan-pandangan keliru tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau tidak berbicara langsung pada pokok persoalan. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang. Kata-kata bantahanmu itu telah ditentang, dan engkau ternyata salah. Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir setan dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul-bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan beras untuk dewa-dewa, mempersembahkan biji wijen dengan cara menyemburkan dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat pada buku jari, setelah itu mengucapkan mantra dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik-baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah, mengusir setan-setan di kuburan, mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kalajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti, pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, pembantu lelaki, pembantu perempuan; gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu penghidupan, dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar; matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi dan yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seseorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, akan ada musim baik, meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang populer dan adat kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti mengatur hari baik mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat kaca-ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari, memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat tumpah dan penguras perut, memberikan obat bersin untuk mengobat sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberikan collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktik sebagai okultis, menjalankan praktik sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
      Brahmana, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian terhadap sila. Brahmana, sama seperti seorang ksatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah dikalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Brahmana, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna.

    Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan (nivarana) itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman, karena tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana I; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (pitisukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan Vitakka (pengarahan pikiran pada obyek) dan vicara (mempertahankan pikiran pada obyek). Seluruh tubuh dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).
    Brahmana, sama halnya seperti tukang memandikan yang pandai atau pembantunya akan menebarkan bubuk-sabun wangi dalam sebuah mangkuk logam, memercikinya dengan air setetes demi setetes dan kemudian ia meremasnya bersama sehingga bubuk sabun itu dapat menyerap seluruh cairan; dibasahi, diresapi dan diliputi dengannya, baik dalam maupun luar, dan tidak ada yang mengalir ke luar.
    Brahmana, demikian pula bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan itu.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Brahmana, selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan diri dari Vitaka dan Vicara, memasuki dan berdiam dalam Jhana II; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitaka dan vicara, keadaan pikiran yang terpusat. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari konsentrasi, dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari konsentrasi.
    Brahmana, bagaikan sebuah kolam yang dalam, yang mempunyai sumber air di bawahnya, tanpa lubang masuk dari Timur atau Barat, dari waktu ke waktu tidak turun hujan; namun, aliran air yang sejuk, yang berasal dari sumber itu akan tetap memenuhi, menggenangi, meresapi dan meliputi kolam itu, sehingga tidak ada satu bagian pun dari kolam itu, yang tidak diliputi oleh air yang sejuk itu.
    Brahmana, demikian pula bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari konsentrasi; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari konsentrasi itu.
    Inilah, Brahmana, faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Brahmana, selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan seimbang yang disertai dengan perhatian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para Arya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbang dan penuh perhatian murni’; ia memasuki dan berdiam dalam Jhana III. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu.
    Brahmana, seperti dalam sebuah kolam yang berisi bunga-bunga teratai; merah, putih atau biru, yang beberapa di antara bunga-bunga teratai merah, putih atau biru yang bersemi dalam air, tumbuh dalam air, tidak muncul di atas permukaan air serta menghisap makanan dari dalam air itu adalah dipenuhi, digenangi diresapi serta diliputi dengan air dingin; sehingga tidak ada satu bagian pun dari bunga-bunga teratai merah, putih atau biru itu mulai dari ujung daun sampai ke akarnya yang tidak diliputi dengan air.
    Brahmana, demikian pula bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Brahmana, selanjutnya dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia (sukkhamasukha), dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam Jhana IV, yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian murni (satiparisuddhi), bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikianlah ia duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih.
    Brahmana, sama seperti seorang yang sedang duduk, diselubungi dengan jubah putih mulai dari kepala sampai ke kaki, sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak bersentuhan dengan jubah putih itu.
    Brahmana, demikian pula bhikkhu itu duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya, dengan perasaan batin yang bersih dan jernih; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi dengan perasaan batin yang bersih dan jernih itu.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.
    Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan-terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Demikianlah ia mengerti: ‘Tubuhku ini mempunyai bentuk terdiri atas empat unsur-pokok (maha-bhuta), berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus-menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran dan kematian; begitu pula halnya dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya.
    Brahmana, sama seperti halnya dengan permata Veluriya, yang gemerlapan, bersih, mempunyai delapan sudut yang terpotong rapi, jernih, murni tanpa cacat, sempurna dalam keadaan apapun. Di tengahnya dimasuki seutas benang, yang berwarna biru, jingga, merah, putih atau kuning. Seandainya seseorang yang memiliki mata meletakkannya di atas tangannya, maka ia akan merenung: ‘Permata Veluriya ini adalah gemerlapan, bersih, mempunyai delapan sudut yang terpotong rapi, jernih, murni, tanpa cacad, sempurna dalam keadaan apa pun. Sekarang permata itu diikatkan pada seutas benang yang berwarna biru, jingga, merah, putih atau kuning.
    Brahmana, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan terang yang timbul dari pengetahuan. Ia mengerti: ‘Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri empat unsur pokok, berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus-menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kelapukan, kehancuran dan kematian, begitu pula halnya dengan kesadaranku yang terikat dengannya.’
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘tubuh-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh ciptaan batin’ melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apa pun.
    Brahmana, sama seperti halnya seseorang menarik sehelai ilalang keluar dari pelepahnya. Maka ia akan mengerti: ‘Inilah ilalang, inilah pelepah. Ilalang adalah satu hal, pelepah adalah hal yang lain. Sesungguhnya dari pelepah ilalang itu telah ditarik keluar.’
    Brahmana, sama seperti halnya seseorang mengeluarkan ular dari kulitnya. Maka ia akan tahu: ‘Inilah ular, inilah kulitnya. Ular adalah satu hal, kulit adalah hal yang lain. Sesungguhnya dari selongsong ular itu telah dikeluarkan.’
    Brahmana, sama seperti halnya seseorang menghunus pedang dari sarungnya. Maka ia akan tahu: ‘Inilah pedang, inilah sarung pedang. Pedang adalah satu hal, sarung pedang adalah hal yang lain. Sesungguhnya dari sarung pedang itu telah dihunus.’
    Brahmana, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘wujud ciptaan batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh ciptaan batin’ melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan; ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib). Ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya: dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam dan timbul melalui tanah, seolah-olah berenang dalam air; ia berjalan di atas air tanpa tenggelam, seolah-olah berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara, seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa; ia dapat pergi mengunjungi alam-alam dewa Brahma dengan membawa tubuh kasarnya.
    Brahmana, sama seperti halnya seorang pembuat barang-barang tembikar atau pembantunya, dapat membuat, berhasil menciptakan berbagai bentuk barang tembikar yang mengkilap menurut keinginannya.
    Brahmana, sama seperti halnya pemahat gading atau pembantunya, dapat memilih gading serta berhasil memahatnya menjadi berbagai bentuk pahatan gading menurut keinginannya.
    Brahmana, sama seperti halnya tukang emas atau pembantunya, dapat menjadikan, berhasil membuat berbagai bentuk barang dari emas menurut keinginannya.
    Brahmana, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan gaib). Demikianlah ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya: dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam dan timbul melalui tanah, seolah-olah berenang dalam air; ia berjalan di atas air tanpa tenggelam, seolah-olah berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara, seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa; ia pergi mengunjungi alam-alam dewa Brahma dengan membawa tubuh kasarnya.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Dengan pikirannya yang terpusat, bersih, jernih bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan Dibbasota (telinga-dewa). Dengan kemampuan-kemampuan Dibbasota yang jernih, yang melebihi telinga manusia biasa, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat.
    Brahmana, sama seperti halnya seseorang yang sedang berada di jalan raya, dapat mendengar suara genderang-besar, suara tambur, suara tiupan terompet kulit kerang, suara genderang kecil. Maka ia akan tahu; ‘Ini suara genderang besar, ini suara tambur, ini suara tiupan terompet kulit-kerang, ini suara genderang kecil.’
    Brahmana, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan Dibbasota (telinga dewa). Dengan kemampuan-kemampuan Dibbasota yang jernih, yang melebihi telinga manusia biasa, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau dekat.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada Cetopariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain, pikiran orang-orang lain. Ia mengetahui:

    Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu.
    Pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu.
    Pikiran yang disertai kebencian sebagai pikiran yang disertai kebencian.
    Pikiran tanpa-kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian.
    Pikiran yang disertai ketidaktahuan sebagai pikiran yang disertai ketidaktahuan.
    Pikiran tanpa ketidaktahuan sebagai pikiran tanpa ketidaktahuan.
    Pikiran yang teguh sebagai pikiran yang teguh.
    Pikiran yang ragu-ragu sebagai pikiran yang ragu-ragu.
    Pikiran yang berkembang sebagai pikiran yang berkembang.
    Pikiran yang tidak berkembang sebagai pikiran yang tidak berkembang.
    Pikiran yang rendah sebagai pikiran yang rendah.
    Pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur.
    Pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat.
    Pikiran yang berhamburan (kacau) sebagai pikiran yang berhamburan (kacau).
    Pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas.
    Pikiran yang tidak bebas sebagai pikiran yang tidak bebas.

    Brahmana, sama halnya seperti seorang wanita, pria atau anak kecil, yang ingin memperindah diri dengan melihat wajahnya pada permukaan sebuah kaca yang bersih dan jernih atau pada sebuah tempayan yang berisikan air jernih; maka apabila wajahnya memiliki tahi-lalat, ia tahu bahwa wajahnya memiliki tahi-lalat; apabila wajahnya tidak memiliki tahi lalat, ia tahu bahwa wajahnya tidak memiliki tahi lalat.
    Brahmana, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas, dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada Ceto-pariyanana (kemampuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain, pikiran orang-orang lain dan ia mengetahui:

    Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu.
    Pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran yang tanpa nafsu.
    Pikiran yang disertai kebencian sebagai pikiran yang disertai kebencian.
    Pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian.
    Pikiran yang disertai ketidaktahuan sebagai pikiran tanpa ketidaktahuan.
    Pikiran yang teguh sebagai pikiran yang teguh.
    Pikiran yang ragu-ragu sebagai pikiran yang ragu-ragu.
    Pikiran yang berkembang sebagai pikiran yang berkembang.
    Pikiran yang tidak berkembang sebagai pikiran yang tidak berkembang.
    Pikiran yang rendah sebagai pikiran yang rendah.
    Pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur.
    Pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat.
    Pikiran yang berhamburan (kacau) sebagai pikiran yang berhamburan (kacau).
    Pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas.
    Pikiran yang tidak bebas sebagai pikiran yang tidak bebas.

    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang Pubbenivasanussati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang: satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, melalui banyak masa perkembangan (samvatta-kappa), melalui banyak masa kehancuran (vivattakappa), melalui banyak masa perkembangan-kehancuran (samvatta-vivattakappa). ‘Di suatu tempat demikian, namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu aku lahir kembali di suatu tempat demikian; di sana namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluarga adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini.’ Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya dan dalam seluruh macamnya.
    Brahmana, sama halnya seperti seseorang yang pergi dari desanya menuju desa lain, lalu dari desa itu ia pergi ke desa lainnya lagi, serta dari desa itu ia pulang kembali ke desanya sendiri; maka ia akan tahu: ‘Dari desaku sendiri, aku pergi ke desa lain. Di sana aku berdiri di tempat-tempat demikian, duduk, berbicara dan berdiam diri demikian. Sekarang dari desa itu aku pulang ke desaku sendiri.’
    Brahmana, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak tergoncangkan. Bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang Pubbenivasanussati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti: satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, melalui banyak masa perkembangan (samvatta-kappa), melalui banyak masa kehancuran (vivatta-kappa), melalui banyak masa perkembangan-kehancuran (samvatta-vivatta-kappa). ‘Di suatu tempat demikian, namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan demikian, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu aku lahir kembali di suatu tempat demikian; di sana namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian lahir kembali di sini.’ Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya dan dalam seluruh macamnya.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Brahmana, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak tergoncangkan. Bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang muncul dan lenyapnya makhluk-makhluk (Cutupa-pata-nana). Dengan kemampuan Dibba Cakkhu (mata dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia biasa, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kelahiran, muncul dalam kelahiran lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan karma-karma mereka: ‘Makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran jahat, penghina para orang suci, pengikut pandangan-pandangan keliru dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah meninggal, mereka terlahir kembali dalam alam celaka, alam sengsara atau alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk yang lain, memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran baik, bukan penghina orang suci, pengikut padangan-pandangan benar dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat kehancuran tubuh mereka, setelah meninggal, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia atau alam surga.’ Demikianlah, dengan kemampuan Dibba Cakkhu yang jernih, yang melebihi mata manusia biasa, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu perwujudan dan muncul dalam perwujudan lain, rendah, mulia, indah, jelek, bahagia atau menderita.
    Brahmana, sama halnya seperti di sana terdapat sebuah rumah bertingkat, terletak di suatu tempat yang menghadap ke persimpangan jalan; seandainya seseorang yang memiliki mata berdiri di atasnya, mengamati orang-orang memasuki rumah, keluar dari rumah, berjalan hilir mudik sepanjang jalan, duduk di tengah persimpangan jalan; maka ia akan tahu: ‘Orang-orang itu memasuki rumah, orang-orang itu keluar dari rumah; orang-orang itu berjalan hilir mudik di sepanjang jalan; orang-orang itu duduk di tengah persimpangan jalan.’
    Brahmana, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak tergoncangkan. Bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang muncul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupa-pata-nana). Dengan kemampuan Dibba Cakkhu (mata dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia biasa, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kelahiran, muncul dalam kelahiran lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan karma-karma mereka: ‘Makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran jahat, penghina para orang suci, pengikut pandangan-pandangan keliru dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah meninggal, mereka terlahir kembali dalam alam celaka, alam sengsara atau alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk yang lain, memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran baik, bukan penghina orang suci, pengikut pandangan-pandangan benar dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat kehancuran tubuh mereka, setelah meninggal, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia atau alam surga.’ Demikianlah, dengan kemampuan Dibba Cakkhu yang jernih, yang melebihi mata manusia biasa, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kelahiran dan muncul dalam kelahiran lain, rendah, mulia, indah, jelek, bahagia atau menderita.
    Brahmana, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa pada masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.

    Brahmana, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak tergoncangkan. Bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin (asava). Demikianlah ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah sebab dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah Jalan yang menuju lenyapnya dukkha.’ Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah asava’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah sebab asava’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir asava’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah jalan yang menuju lenyapnya asava’. Dengan mengetahui dan melihatnya demikian, maka batinnya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasava), dan noda-noda ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas seperti itu, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya dan ia mengetahui: ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini.’
    Brahmana, sama halnya seperti dalam sebuah lekukan gunung, terdapat sebuah kolam yang jernih dan tenang airnya, seandainya seseorang yang memiliki mata berdiri pada tepinya, melihat di dalam kolam ada tiram-tiram, kerang-kerang, batu-batu kerikil, pasir dan sekawanan ikan yang berenang kian ke mari; maka ia akan tahu: ‘Kolam ini bersih, jernih dan tenang airnya. Di dalamnya ada tiram-tiram, kerang-kerang, batu-batu kerikil, pasir dan sekawanan ikan yang berenang kian ke mari.’
    Brahmana, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak tergoncangkan. Bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin (asava). Demikianlah ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah sebah dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah Jalan yang menuju lenyapnya dukkha.’ Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah asava’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah sebab asava’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir asava’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah jalan yang menuju lenyapnya asava’. Dengan mengetahui dan melihatnya demikian, maka batinnya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasava), dan noda-noda ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas seperti itu, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya dan ia mengetahui: ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini.
    Brahmana, inilah kebijaksanaan.”

    1. Setelah ia selesai berkata, Brahmana Sonadanda berkata kepada Sang Bhagava: “Menakjubkan Gotama, menakjubkan Gotama! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan penerangan di tempat yang gelap agar bagi mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda, demikian pula dhamma telah dibabarkan dengan berbagai macam cara oleh Samana Gotama kepadaku. Sekarang saya menyatakan berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava Gotama sudi menerima saya sebagai seorang upasaka, yang mulai hari ini sampai selama-lamanya, berlindung kepada beliau. Semoga Samana Gotama bersama bhikkhu sangha sudi kiranya menerima makan pagi dariku besok.”
      Sang Bhagava menyetujuinya dengan bersikap diam. Sonadanda setelah mengetahui bahwa beliau setuju, bagun dari duduk dan menghormati Sang Bhagava, lalu berjalan mengitari dengan menempatkan beliau di sisi kanannya dan pulang. Pada pagi hari, setelah menyiapkan makanan manis, lunak dan keras di rumahnya, serta waktu makan telah tiba, ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: “Samana Gotama, waktu telah tiba dan makanan telah siap.”
    2. Sang Bhagava, di pagi hari telah mengenakan jubah dan membawa patta, bersama bhikkhu sangha pergi ke rumah Sonadanda, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Brahmana Sonadanda dengan tangannya sendiri melayani Sang Bhagava bersama bhikkhu sangha, dengan memberikan makanan manis, keras dan lunak hingga mereka menolak untuk menerima lagi. Ketika Sang Bhagava selesai makan, mencuci patta dan tangannya, Sonadanda duduk di tempat yang agak rendah di samping beliau, lalu berkata:
    3. “Gotama, bilamana setelah saya berada di antara kelompokku, saya harus bangkit dari duduk dan menghormat kepada Samana Gotama, maka kelompokku akan menyatakan saya bersalah. Sekarang ia yang akan dinyatakan bersalah oleh kelompoknya, reputasinya akan menurun; selanjutnya ia yang bereputasi menurun, maka pendapatannya akan menurun pula. Karena apa yang kita nikmati adalah tergantung pada reputasi kita, maka bilamana saya duduk di antara para hadirin, saya beranjali menghormat, semoga Samana Gotama menerimanya seperti saya telah bangkit dari duduk. Bilamana saya berada di antara para hadirin, saya melepaskan kain penutup kepalaku, semoga Samana Gotama menerimanya sebagai namaskaraku. Begitu pula, bilamana saya berada di atas keretaku, saya turun dari kereta untuk menghormat Samana Gotama, maka kelompokku akan menyatakan saya bersalah. Maka ketika saya di atas keretaku, saya meletakkan cambuk lebih rendah, semoga Samana Gotama menerimanya seperti saya telah turun dari kereta. Bilamana saya telah turun dari kereta dan saya mengoyang-goyang tanganku, semoga Samana Gotama menerimanya seperti saya telah bernamaskara.”
    4. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan, membangkitkan, mengarahkan dan menyenangkan brahmana Sonadanda dengan dhamma, lalu bangkit dari duduk dan pergi.

    h1

    TEVIJJA SUTTA

    September 3, 2010

    1. Demikianlah yang saya dengar.

    Pada suatu waktu Bhagava bersama sekelompok besar bhikkhu, berjumlah lima ratus orang dalam perjalanan melalui Kosala, tiba di Manasakata, sebuah desa milik seorang Brahmana di Kosala. Bhagava tinggal di taman mangga yang terletak di tepi sungai Aciravati di sebelah utara Manasakata.

    2. Ketika itu banyak Brahmana sangat terkenal dan kaya tinggal Manakata. Di antara mereka adalah Brahmana Canki, Brahmana Tarukkho, Brahmana Pokkharasadi, Brahmana Janussoni, Brahmana Todeyya, dan lain-lain

    3. Sementara itu, ketika sedang berjalan bolak balik di tepi sungai, terjadi percakapan serius antara Vasettha dan Bharadvaja tentang jalan benar dan jalan salah.

    4. Pemuda Vasettha berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

    5. Sedangkan pemuda Bharadvaja berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’.

    6. Namun pemuda Vasettha tidak dapat meyakinkan pemuda Bharadvaja, begitu pula pemuda Bharadvaja tidak dapat meyakinkan pemuda Vasettha.

    7. Kemudian pemuda Vasettha berkata kepada pemuda Bharadvaja: ‘Bharadvaja, Samana Gotama, putra suku Sakya, telah meninggalkan keluarga Sakya menjadi petapa, sekarang ada di Manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai Aciravati, tepatnya di utara Manasakata. Sehubungan dengan Samana Gotama telah tersebar berita yang baik yaitu: ‘Demikianlah Bhagava, maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tidak-tanduknya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan patut dimuliakan’. Bharadvaja, marilah kita menemui Samana Gotama, bilamana kita telah menemuinya, kita tanyakan persoalan kita ini kepada beliau. Apa yang Samana Gotama uraikan kepada kita, kita perhatikan dengan baik’.
    ‘Baiklah, kawan!’ jawab pemuda Bharadvaja menyetujui saran pemuda Vasettha.

    8. ‘Selanjutnya, pemuda Vasettha dan pemuda Bharadvaja pergi ke tempat Bhagava berada’. Setelah sampai, mereka memberi hormat kepada Bhagava dan saling menyapa dengan kata-kata santun, lalu duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, pemuda Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, ketika kami sedang berjalan bolak-balik (di tepi sungai) muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah. Saya berkata : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

    Sedangkan pemuda Bharadvaja mengatakan : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. Gotama, sehubungan dengan masalah ini terjadi perdebatan, pertentangan dan perbedaan pandangan di antara kami’.

    9. ‘Vasettha, anda mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’. Sedangkan Bharadvaja mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. ‘Vasettha, karena itu terjadi perdebatan, pertanyaan dan perbedaan pandangan di antara anda berdua?’

    10. ‘Mengenai jalan benar dan jalan salah, Gotama. Gotama banyak Brahmana mengajar bermacam-macam jalan, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahma-cariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma?’

    “Gotama, bagaikan di sekitar desa atau kota banyak dan bermacam-macam jalan, namun semua jalan itu bertemu di desa – demikian pula cara itu bahwa semua macam jalan yang diajarkan oleh para Brahmana, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahmacariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakan-nya untuk bersatu dengan Brahma?

    11. ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?
    ‘Ke arah benar, Gotama’.
    ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?
    ‘Ke arah benar, Gotama’.
    ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?
    ‘Ke arah benar, Gotama’.

    12. ‘Bagaimana Vasettha? Apakah ada seorang Brahmana dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’
    ‘Tidak ada, Gotama?’
    ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’
    ‘Tidak ada, Gotama?’
    ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru di antara guru-guru dari para guru Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’
    ‘Tidak ada, Gotama?’
    ‘Vasettha, atau apakah ada seorang Brahmana sampai tujuh generasi yang telah melihat langsung Brahma?’
    ‘Tidak ada, Gotama?’

    13. ‘Vasettha, baiklah, para reshi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kunonya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu – mereka mengucapkan itu dengan berkata: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihatnya, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’
    ‘Tidak, Gotama?’

    14. ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa tidak ada dari para Brahmana, atau para guru mereka, atau dari murid-murid mereka, sampai tujuh generasi yang pernah melihat langsung Brahma. Begitu pula dengan para rishi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kuno-nya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu. Mereka tidak mengatakan: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihat, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’ Sehingga para Brahmana yang menguasai tevijja dengan benar berkata: ‘Apa yang kita tidak tahu, apa yang kita tidak lihat, keadaan bersatu yang jalannya kita ajarkan, dengan berkata: Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma’.
    ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila begitu, bukankah cerita mengenai para Brahmana yang walaupun mereka menguasai tevijja, ternyata mereka menyatakan hal yang bodoh?’
    ‘Gotama, sesungguhnya demikian bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata menyatakan hal yang bodoh.

    15. ‘Vasettha, sebenarnya para Brahmana yang menguasai tevijja dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu dan mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. ‘
    ‘Vasettha, bagaikan beberapa orang buta yang saling berdekatan, yang di depan tidak dapat melihat, yang di tengah tidak dapat melihat, begitu pula yang di belakang tidak dapat melihat – Vasettha, saya berpendapat begitu pula dengan para Brahmana yang menguasai tevijja tetapi menceritakan hal yang buta: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, begitu pula yang di belakang tidak melihat. Maka uraian dari para Brahmana yang menguasai tevijja ini, ternyata konyol, hanya kata-kata, hampa dan kosong!.

    16. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Dapatkah para Brahmana yang menguasai tevijja – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam?’
    ‘Tentu mereka dapat, Gotama’.

    17. Vasettha, bagaimana pendapatmu? Para Brahmana yang menguasai tevijja, yang dengan baik – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam – adalah para Brahmana yang menguasai tevijja, dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan bulan dan matahari, dengan berkata: “Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan bulan dan matahari”.
    ‘Tentu tidak, Gotama!’

    18. ‘Vasettha, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapat-mu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’
    ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata omong kosong’.

    19. ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’
    ‘Vasettha, bagaikan seorang pria berkata: ‘Betapa saya rindu, betapa saya mencintai wanita tercantik di dunia ini!’
    ‘Orang-orang bertanya kepadanya: ‘Baiklah kawan. Wanita tercantik di dunia ini, yang anda rindukan dan cintai, apakah anda mengetahui bahwa wanita cantik itu bangsawan (khattiya), Brahmana, pedagang (vessa) atau kalangan bawah (sudda)?’
    ‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.
    ‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Jadi, ia yang anda rindukan dan cintai adalah orang yang belum anda tahu dan lihat?’
    ‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.
    ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?’
    ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

    20. ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’
    ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.
    ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

    21. ‘Vasettha, bagaikan seseorang yang membuat sebuah tangga untuk naik ke istana di suatu tempat di persimpangan jalan. Lalu orang-orang bertanya kepadanya: ‘Kawan, baiklah, untuk naik ke istana itu anda buatkan tangga, apakah istana itu di sebelah, timur, selatan, barat atau utara? Apakah istana itu tinggi, rendah atau menengah?’
    ‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.
    ‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Kawan, jadi anda membuat tangga untuk naik ke sesuatu – apakah itu istana – yang anda tidak tahu dan belum lihat?.
    ‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.
    ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?
    ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

    22. ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’
    ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

    23. ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

    24. ‘Vasettha, bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia berdiri di tepi sini, ia memohon ke tepi sebelah dengan berkata: ‘Wahai tepi seberang sana, datang ke sini!, datanglah ke seberang sini!’
    ‘Vasettha bagaimana pendapatmu? Apakah tepi seberang sungai Aciravati, karena permohonan, doa, pujian dan harapan orang itu akan datang ke tepi sebelah sini?’
    ‘Gotama, tentu saja tidak’.

    25. ‘Vasettha, begitulah caranya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – berkata: ‘Kami mohon Inda, kami mohon Soma, kami mohon Varuna, kami mohon Isana, kami mohon Pajapati, kami mohon Brahma, kami mohon Mahiddhi, kami mohon Yama.
    ‘Vasettha, para Brahmana yang menguasai tevijja – meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – bahwa mereka, berdasarkan pada permohonan, doa, pujian dan harapan, bila mereka meninggal dunia akan menyatu dengan Brahma – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

    26. ‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, tangannya, punggungnya terikat erat oleh rantai kuat, dan bagaimana pendapatmu, Vasettha, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?
    ‘Gotama, tentu saja tidak’.

    27. ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya-ariya sebagi rantai atau ikatan’.
    ‘Apakah lima hal itu?’
    Pertama adalah benda-benda (rupa) yang dilihat mata, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebab-kan kesenangan.
    Kedua adalah Suara-suara yang didengar telinga, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
    Ketiga adalah Bebauan yang dicium oleh hidung, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
    Keempat adalah Rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai menyebabkan kesenangan.
    Kelima adalah Sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan. Lima hal ini berkecenderungan pada nafsu disebut dalam Vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan’.
    ‘Vasettha, lima hal berkecenderungan pada nafsu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja terantai, terangsang, terikat pada hal-hal itu, dan mereka tidak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu’.

    28. ‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terikat pada hal-hal itu, dan mereka tdlak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

    29. ‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, ia membungkus dirinya hingga ke kepalanya, ia berbaring untuk tidur. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?
    ‘Gotama, tentu saja tidak’.

    30. ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima rintangan (nivarana), yang dalam vinaya-ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat.
    ‘Apakah lima hal itu?’
    Pertama ‘Nafsu indera sebagai perintang’.
    Kedua ‘Kebencian sebagai perintang’.
    Ketiga ‘Malas dan ngantuk sebagai perintang’.
    Keempat ‘Keragu-raguan sebagai perintang’.
    Kelima ‘Kegelisahan sebagai perintang’.
    ‘Vasettha, inilah lima perintang yang dalam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat’.
    ‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terintang, terhalang, terganggu dan terjerat oleh lima rintangan ini – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

    31. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu dan apakah anda pernah mendengar dari para Brahmana tua dan telah berpengalaman, dan ketika para ahli dan para guru bercakap-cakap bersama?
    Apakah Brahma memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’
    ‘Tidak, Gotama’.
    ‘Apakah ia diliputi bahaya atau bebas dari bahaya?’
    ‘Bebas dari bahaya, Gotama’.
    ‘Apakah ia diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?
    ‘Bebas dari kebencian, Gotama’.
    ‘Apakah ia ternoda atau suci?’
    ‘Suci, Gotama?’
    ‘Apakah ia menguasai dirinya atau tidak?’
    ‘Menguasai dirinya, Gotama’.

    32. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’
    ‘Memiliki, Gotama’.
    ‘Apakah mereka diliputi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’
    ‘Diliputi kemarahan, Gotama’.
    ‘Apakah mereka diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’
    ‘Diliputi kebencian, Gotama’.
    ‘Apakah batin mereka suci atau tidak?’
    ‘Tidak suci, Gotama’.
    ‘Apakah mereka menguasai diri mereka atau tidak?’
    ‘Tidak menguasai mereka, Gotama’.

    33. ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana memiliki istri dan kekayaan, namun Brahma tidak memiliki. Dapatkah disesuaikan atau disamakan Brahmana yang memiliki istri dan harta dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta?’
    ‘Tentu tidak, Gotama’.

    34. ‘Vasettha, baiklah. Tetapi sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja ini, yang hidup dalam perkawinan dan memiliki harta, setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi’.

    35. ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana diliputi kemarahan, kebencian, ternoda, dan tak menguasai diri; sedangkan Brahma tidak diliputi oleh kemarahan, tidak diliputi kebencian, suci dan menguasai diri. Dapatkah disesuaikan atau disamakan para Brahmana dan para Brahma?’
    ‘Tentu tidak, Gotama?’

    36. ‘Vasettha, baiklah. Bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ini yang masih diliputi kemarahan, kebencian, ternoda dan tidak menguasai diri setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang bebas dari kemarahan dan kebencian, suci dan menguasai diri – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi.
    Vasettha, demikianlah, walaupun para Brahmana menguasai tevijja, mereka meyakininya, namun mereka tenggelam (dalam upacara); karena tenggelam mereka tiba hanya pada kepuasaan, sementara mereka mengira bahwa mereka menyeberang ke tanah bahagia’.
    Maka tiga kebijaksanaan para Brahmana yang menguasai tevijja disebut padang tanpa berair; tiga kebijaksanaan mereka disebut hutan tanpa jalan; tiga kebijaksanaan mereka disebut kegagalan’.

    37. ‘Ketika beliau selesai berkata, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, telah dikatakan kepadaku bahwa Samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma’.
    ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, bukankah Manasakata dekat dan tak jauh dari tempat ini?’
    ‘Begitulah, Gotama. Manasakata dekat, tidak jauh dari tempat ini’.
    ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, misalnya ada seseorang yang lahir di Manasakata dan belum pernah meninggalkan Manasakata, lalu orang-orang bertanya kepadanya tentang jalan yang menuju Manasakata. Apakah orang itu yang lahir dan dibesarkan di Manasakata akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab?’
    ‘Tentu tidak Gotama. Mengapa? Jika seseorang lahir dan dibesarkan di Manasakata, maka setiap jalan yang mengarah ke Manasakata diketahuinya dengan baik’.

    38. ‘Vasettha, orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Manasakata mungkin saja ia akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab bila ditanya jalan yang menuju ke Manasakata; tetapi Tathagata, bila ditanya mengenai jalan yang mengarah ke alam Brahma, ia tidak akan ragu-ragu atau mendapat kesulitan untuk menjawab. Vasettha, karena saya tahu Brahma, alam Brahma, dan jalan yang mengarah ke alam Brahma. Ya, saya mengetahui itu karena saya sebagai seorang yang telah memasuki alam Brahma dan telah terlahir di dalamnya’.

    39. ‘Setelah beliau berkata begitu, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, begitulah dikatakan kepada saya bahwa samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma. Itu bagus sekali. Mohon yang mulia Gotama menunjukkan jalan untuk bersatu dengan Brahma, mohon yang mulia Gotama menyelamatkan ras Brahmana’.
    ‘Vasettha, perhatikanlah dan dengarkanlah dengan baik, saya akan bicara!’
    ‘Baiklah,’ jawab pemuda Brahmana Vasettha menyetujuinya’.

    40. ‘Kemudian Bhagava berkata: ‘Vasettha, ketahuilah di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmana; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci’.

    41. ‘Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup tak berkeluarga (pabbajja).
    Maka tidak lama kemudian ia meninggalkan hartanya, apakah itu besar atau kecil; meninggalkan lingkungan keluarganya, apakah banyak atau sedikit, ia mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi tak berkeluarga (pabbajja).

    42. ‘Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas’.

    43. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya? Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup, inilah sila yang dimilikinya.
    ‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya’.
    ‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya’.

    44. ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’. Inilah sila yang dimilikinya’.
    ‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Inilah sila yang dimilikinya’.
    Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pernbicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya’.
    Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya’.
    ‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang dhamma dan vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya’.

    45. Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh- tumbuhan.
    Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari.
    Ia menahan diri dari menonton pertunjukkan-pertunjukkan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
    Ia menahan dari penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
    Ia menahan diri dari penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia menahan diri dari menerima emas dan perak.
    Ia menahan diri dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak.
    Ia menahan diri dari menerima daging yang belum dimasak.
    Ia menahan diri dari menerima wanita dan perempuan-perempuan muda.
    Ia menahan diri dari menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan.
    Ia menahan diri dari menerima biri-biri atau kambing,
    Ia menahan diri dari menerima bagi dan unggas,
    Ia menahan diri dari menerima gajah, sapi dan kuda.
    Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian.
    Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran.
    Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan.
    Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
    Inilah sila yang dimilikinya’.

    46. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas- ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’

    47. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    48. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti: tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    49. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan bajak mainan, permainan jungkir balik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, seorang bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’

    50. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    51. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    52. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang mencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percapakan tentang wanita, percakapan tentang lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.

    53. ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini? ‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. ‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau berbicara langsung pada pokok persoalan’. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’. Kata-kata bantahanmu itu ditentang, dan engkau ternyata salah’. ‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    54. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    55. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    56. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa, mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kelajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    57. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    58. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.

    59. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    60. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    61. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    62. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberi collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

    63. ‘Vasettha, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut manapun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila, Vasettha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut manapun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna’.

    64. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya? Vasettha, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya. Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
    Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
    Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
    Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
    Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.
    Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

    65. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian seksama dan pengerti jelas? Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali; ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping; ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta); ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam. Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

    66. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas? Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini. Vasettha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Vasettha, demikian pula seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini. Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu merasa puas’

    67. ‘Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

    68. ‘Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad jahat. Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan. Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran. Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.

    69. ‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: “Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

    70. ‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

    71. ‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

    72. ‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

    73. ‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

    74. ‘Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

    75. ‘Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

    76. ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan keseluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

    77. ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta-kasih’.
    ‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

    78. “Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’
    ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh kasih-sayang (karuna) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih-sayangnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
    ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh empati (mudita) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
    ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh keseimbangan batin (upekkha) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

    79. ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh kasih sayang’.
    ‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.
    ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh empati’.
    ‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.
    ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh keseimbangan batin’.
    ‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

    80. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, akankah bhikkhu yang hidup seperti itu memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’
    ‘Ia tidak akan, Gotama’
    ‘Apakah ia akan dipenuhi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’
    ‘Ia akan bebas dari kemarahan, Gotama’.
    ‘Apakah ia akan diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’
    ‘Ia bebas dari kebencian, Gotama’.
    ‘Apakah pikirannya akan ternoda atau suci?’
    ‘Pikirannya akan suci, Gotama’.
    ‘Apakah ia akan menguasai dirinya atau tidak akan?’
    ‘Ia akan menguasai dirinya, Gotama’.

    81.’Vasettha, anda mengatakan bahwa bhikkhu itu bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian, dan Brahma bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian. Apakah ada persesuaian atau persamaan antara bhikkhu dan Brahma?’
    ‘Ya, Gotama’.
    Vasettha, baiklah. Vasettha bila demikian, bhikkhu yang bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian bilamana meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma, karena ada persamaannya – keadaan seperti mungkin terjadi’.

    ‘Vasettha, seperti yang anda katakan bahwa bhikkhu adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, pikirannya suci dan menguasai dirinya; dan Brahma adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, suci dan menguasai dirinya.
    Vasettha, dengan demikian sesungguhnya bhikkhu yang bebas dari kemarahan. Bebas dari kebencian, pikiran suci dan dapat menguasai dirinya, bila ia meninggal dunia, ia dapat bersatu dengan Brahma, yang ada persamaannya – keadaan seperti ini mungkin terjadi’.

    82. Setelah beliau berkata begitu, kemudian pemuda Brahmana Vasettha dan Bharadvaja berkata kepada Bhagava: ‘Mengagumkan kata-kata yang diucapkan Gotama. Menakjubkan! Bagaikan orang yang menegakkan benda yang tergeletak, atau menemukan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat, atau menerangi tempat yang gelap sehingga orang yang mempunyai mata dapat melihat benda; – begitu pula, Gotama telah membabarkan dhamma kepada kami dalam banyak cara. Kami menyatakan berlindung kepada Bhagava, Dhamma dan bhikkhu Sangha. Mohon Bhagava menerima kami sebagai pengikut (upasaka) sejak hari ini hingga akhir hayat’.