h1

Bahtera Perkawinan Yang Bahagia

August 26, 2010

Perkawinan yang ada didalam agama Buddha tidaklah dianggap sebagai sesuatu yang suci atau tidak suci. Setiap pria dan wanita mempunyai kebebasan didalam memilih cara hidupnya masing-masing (menikah, tidak menikah atau tetap membujang). Dengan demikian, perkawinan bukan semata-mata menjadi suatu kewajiban  dalam beragama yang harus dipatuhi.

Bila suami istri membangun bahtera rumah tangga perkawinan itu dengan baik berdasarkan dhamma, maka perkawinan akan menjadi Mangala “berkah kebahagiaan” dalam kehidupan. bahkan dalam tingkat-tingkat kesucianpun tidak tertutup bagi mereka yang telah memilih cara hidup berkeluarga. Namun sebaliknya, bila perkawinan dilakukan tanpa suatu dasar yang kokoh bahtera perkawinan akan menjadi jalan mempercepat keneraka.

Dhamma sebagai jalan –Niyyanika Dhamma atau patipatti dhamma—memberikan tuntunan bagi semuanya dalam cara hidup yang berbeda: hidup kebhikkhuan atau perumah tangga. Tetapi, meskipun cara hidup mereka berbeda, dhamma membawa keduanya untuk menempuh tujuan perjalanan yang sama, yaitu kebahagiaan tertinggi atau kebebasan dari penderitaan.

Tanggung jawab bersama

Cukup banyak kotbah sang buddha yang dijelaskan dengan sangat rinci tentang praktek kehidupan benar dalam membangun dan mengisi lembaga perkawinan itu. Sigalovada sutta –yang menunjukkan kewajiban hdiup masyarakat, termasuk kewajiban suami istri dan orang tua — anak harus menjadi pegangan dalam hidup bermasyarakat. Demikian juga dalam sammajiwisutta, sang buddha sendiri meletakkan dasar-dasar perkawinan harmoni:

Para Bhikkhu, bila suami dan istri mengharapkan dapart saling bertemu dalam kehidupan ini dan dalam kehidupan yang akan datang, keduanya hendak menjadi orang memiliki keyainan (saddha) yang sebanding, memiliki tata susila yang sembanding, memiliki kemurahan hati (caga) yang sebanding,dan memiliki kebijaksanaan (panna) yang sebanding. Suami istri yang demikian itu tentulah dapat saling bertemu dalam kehidupan sekarang ini dalam kehidupan yang akan datang.”

Kehidupan harmoni tidak dapat dituntut dari sepihak, baik suami ataupun istri juga anak-anak mereka, mempunyai kewajiban moral dalam membangun keluarga harmoni.

Berbicara tentang perkawinan sesungguhnya bukan hanya menoroti persoalan cinta, seks dan kebahagian berpasangan, tidak kalah pentingnya adalah hubungan timbal balik  antara pasangan suami istri sebagai orang tua kepada anak-anak mereka. Anak adalah bagian dari keluarga. Mereka adalah tumpuan harapan orang tua, pembawa kebahagiaan, tetapi juga sebaliknya, bisa menjadi salah satu cumber bencana dalam rumah tangga.

Aspek moral dan sosial ekonomi

Sebagaimana judul artikel ini – harmoni perkawinan—akan saya titik beratkan bahasan tentang sikap mental yang mendasari keharmonisan itu. Dalam sigalovada sutta, sang buddha menjelaskan tentang jalainan kewajiban suami istri sebagai berikut:

Wahai perumah tangga muda, Ada lima hal seorang suami harus berlaku terhadap istrinya:

1. memuji dan memperarat hubungan

2. menghargai

3. setia

4. memberikan peranan kepadanya

5. memberikan pakaian dan perhiasan

Dalam lima hal pula seorang istri harus memperlakukan suaminya dengan kasih sayang:

1. mengurus rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab

2. ramah terhadap mertua dan sahaba-sahabat suaminya

3. setia

4. melindungi penghasilan suami (tidak boros)

5. rajin dan pandai melaksanakan tugas-tugasnya.”

Kewajiban yang diruaikan didalam sigalovada sutta tersebut menuntut pasangan suami istri untuk berlaku benar dalam hal moral dan kebutuhan sosial ekonomi. Diatas kedua dasar ini lembaga perkawinan akan kokoh berdiri membawakan keharmonisan dan kesejahteraan. Tidak ada tawar menawar untuk keduanya, sebab kalau diabaikan maka keduanya akan menjadi sumbu penyulut pertengkaran dan kehancuran keluarga.

Sumber percecokkan

Suami yang menjaga moral dengan baik, tetapi mengabaikan kebutuhan sosial ekonomi keluarga, akan menyebabkan keluarga itu hidup dalam kekurangan, bahkan kemiskinan. Hal. Ini mudah sekali menimbulkan seribu satu macam persoalan yang kemudian menyulut api percecokkan.

Demikian pula pasangan suami istri tidak kekurangan, bahkan berlebihan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial ekonomi, tapi salah satu atau keduanya tidak memiliki moral yang baik, maka tidak mungkin juga meraka akan menikmati suasana harmoni dan buah kebahagiaan. Keluarga seperti ini ibarat pohon yang sarat buahnya tapi akarnya tidak kuat karena mulai digerogoti hama dan penyakit.

Cinta kasih sebagai kunci

Agama buddha mencita-citakan keluarga harmoni  sebagai keluarga bahagia dan sejahtera. Keluarga bahagia ini dihargai sebagai berkah utama, yang merupakan salah satu kondisi penting, yang memungkinkan seseorang mencapai kemajuan.

Kalau kita kaji lebih dalam, sampaialh kita pada kesimpulan bahwa dasar hakiki keharmonisan adalah cinta kasih. Bukan saja kewajiban yang disebutkan dalam sigalovadasutta tersebut bersumber pada cinta kasih antara suami dan istri, tetapi hampir semua orang yakin, bahwa cinta kasih itu yang membuat seseorang bertanggung jawab dalam membangun dan memelihara keluarga harmoni.

Tetapi perlu diingat bahwa cinta kasih yang menjadi dasar hakiki keharmonian bukanlah suatu yang bisa didapat dengan sekali pungut. Cinta kasih harus dipupuk dengan dasar pengertian yang benar, keuletan dan kesabaran, dari saat ke saat, dari hari kehari, sepanjang hidup ini.

Sikap berterus terang

Dalam agama buddha ,  cinta kasih bukan hanya sikap emosiaonal mencintai, apalagi memiliki. Tetapi cinta kasih adalah suatu sikap yang berdiri diatas dasar kebijaksanaan, yaitu: sikap memberi. Salah satu sifat cinta kasih yang harus kita pupuk dalam lembaga perkawinan adalah: saling memberi kesempatan yang memungkinkan sikap untuk berterus terang. Tidak hanya bagi pasangan suami istri, orang tua dan anak, sudah tidak saling mempercayai, saling sembunyi-sembunyi, tidak mau berterus terang, tidak mau terbuka, maka keharmonisan pasangan dan juga keharmonisan keluarga yang menjadi idaman hanyalah tinggal impian. Rupa-rupanya sekarang ini lembaga perkawinan dan juga kehidupan keluarga sudah banyak yang mengalami erosi keterusterangan. Mereka hidup berkeluarga, suami istri atau ayah ibu dan anak, tetapi nyatanya mereka tidak mempunyai hubungan kekeluargaan. Mereka bersikap saling merahasiakan, sehingga akhirnya keakuan menggantikan cinta kasih dan keharmonisan.

Keterus terangan mempunyai kaitan yang erat sekali dengan pengendalian diri, mempunyai sikap mau berterus terang, tidak tertutup, berarti bersedia (berani) menerima kenyataan dengan wajar, tidak emosional dan bersedia meberikan pandangan dengan wajar pula. Kalau sikap mau berterus terang atau keterbukaan ini banyak dicampuri tuntutan keakuan, suami selelu menuntut dan mencela sikap istri atau sebaliknya, membuka persoalan dan kesulitan pada pasangannya. Hubungan harmoni akan berubah menjadi hubungan formal yang kaku.

Sebagai penutup dari artikel ini, saya akan menghakiri dengan menunjukkan enam faktor pemelihara keharmonisan, seperti disebutkan oleh sang buddha dalam saraniya dhamma sutta:

1. Saling memperlakukan dengan cinta kasih

2. Berbicara dengan cinta kasih

3. Memikirkan dengan cinta kasih

4. Masing-masing saling mengajak untuk ikut serta menikmati kebahagiaan yang sedang dinikmatinya

5. Mempunyai sikap moral yang serasi

6. Mempunyai pandangan hidup yang sama

Semoga uraian ini akan membwakan suatu manfaat bagi anda dalam mempersiapkan, membangun serta membenahi perkawinan anda untuk hidup yang harmonis.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

Sadhu…sadhu…Sadhu…

Dikutip dari Y.M Bhante Pannavaro Mahathera

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: