h1

TEVIJJA SUTTA

September 3, 2010

1. Demikianlah yang saya dengar.

Pada suatu waktu Bhagava bersama sekelompok besar bhikkhu, berjumlah lima ratus orang dalam perjalanan melalui Kosala, tiba di Manasakata, sebuah desa milik seorang Brahmana di Kosala. Bhagava tinggal di taman mangga yang terletak di tepi sungai Aciravati di sebelah utara Manasakata.

2. Ketika itu banyak Brahmana sangat terkenal dan kaya tinggal Manakata. Di antara mereka adalah Brahmana Canki, Brahmana Tarukkho, Brahmana Pokkharasadi, Brahmana Janussoni, Brahmana Todeyya, dan lain-lain

3. Sementara itu, ketika sedang berjalan bolak balik di tepi sungai, terjadi percakapan serius antara Vasettha dan Bharadvaja tentang jalan benar dan jalan salah.

4. Pemuda Vasettha berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

5. Sedangkan pemuda Bharadvaja berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’.

6. Namun pemuda Vasettha tidak dapat meyakinkan pemuda Bharadvaja, begitu pula pemuda Bharadvaja tidak dapat meyakinkan pemuda Vasettha.

7. Kemudian pemuda Vasettha berkata kepada pemuda Bharadvaja: ‘Bharadvaja, Samana Gotama, putra suku Sakya, telah meninggalkan keluarga Sakya menjadi petapa, sekarang ada di Manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai Aciravati, tepatnya di utara Manasakata. Sehubungan dengan Samana Gotama telah tersebar berita yang baik yaitu: ‘Demikianlah Bhagava, maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tidak-tanduknya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan patut dimuliakan’. Bharadvaja, marilah kita menemui Samana Gotama, bilamana kita telah menemuinya, kita tanyakan persoalan kita ini kepada beliau. Apa yang Samana Gotama uraikan kepada kita, kita perhatikan dengan baik’.
‘Baiklah, kawan!’ jawab pemuda Bharadvaja menyetujui saran pemuda Vasettha.

8. ‘Selanjutnya, pemuda Vasettha dan pemuda Bharadvaja pergi ke tempat Bhagava berada’. Setelah sampai, mereka memberi hormat kepada Bhagava dan saling menyapa dengan kata-kata santun, lalu duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, pemuda Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, ketika kami sedang berjalan bolak-balik (di tepi sungai) muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah. Saya berkata : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja mengatakan : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. Gotama, sehubungan dengan masalah ini terjadi perdebatan, pertentangan dan perbedaan pandangan di antara kami’.

9. ‘Vasettha, anda mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’. Sedangkan Bharadvaja mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. ‘Vasettha, karena itu terjadi perdebatan, pertanyaan dan perbedaan pandangan di antara anda berdua?’

10. ‘Mengenai jalan benar dan jalan salah, Gotama. Gotama banyak Brahmana mengajar bermacam-macam jalan, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahma-cariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma?’

“Gotama, bagaikan di sekitar desa atau kota banyak dan bermacam-macam jalan, namun semua jalan itu bertemu di desa – demikian pula cara itu bahwa semua macam jalan yang diajarkan oleh para Brahmana, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahmacariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakan-nya untuk bersatu dengan Brahma?

11. ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?
‘Ke arah benar, Gotama’.
‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?
‘Ke arah benar, Gotama’.
‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?
‘Ke arah benar, Gotama’.

12. ‘Bagaimana Vasettha? Apakah ada seorang Brahmana dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’
‘Tidak ada, Gotama?’
‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’
‘Tidak ada, Gotama?’
‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru di antara guru-guru dari para guru Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’
‘Tidak ada, Gotama?’
‘Vasettha, atau apakah ada seorang Brahmana sampai tujuh generasi yang telah melihat langsung Brahma?’
‘Tidak ada, Gotama?’

13. ‘Vasettha, baiklah, para reshi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kunonya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu – mereka mengucapkan itu dengan berkata: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihatnya, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’
‘Tidak, Gotama?’

14. ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa tidak ada dari para Brahmana, atau para guru mereka, atau dari murid-murid mereka, sampai tujuh generasi yang pernah melihat langsung Brahma. Begitu pula dengan para rishi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kuno-nya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu. Mereka tidak mengatakan: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihat, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’ Sehingga para Brahmana yang menguasai tevijja dengan benar berkata: ‘Apa yang kita tidak tahu, apa yang kita tidak lihat, keadaan bersatu yang jalannya kita ajarkan, dengan berkata: Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma’.
‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila begitu, bukankah cerita mengenai para Brahmana yang walaupun mereka menguasai tevijja, ternyata mereka menyatakan hal yang bodoh?’
‘Gotama, sesungguhnya demikian bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata menyatakan hal yang bodoh.

15. ‘Vasettha, sebenarnya para Brahmana yang menguasai tevijja dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu dan mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. ‘
‘Vasettha, bagaikan beberapa orang buta yang saling berdekatan, yang di depan tidak dapat melihat, yang di tengah tidak dapat melihat, begitu pula yang di belakang tidak dapat melihat – Vasettha, saya berpendapat begitu pula dengan para Brahmana yang menguasai tevijja tetapi menceritakan hal yang buta: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, begitu pula yang di belakang tidak melihat. Maka uraian dari para Brahmana yang menguasai tevijja ini, ternyata konyol, hanya kata-kata, hampa dan kosong!.

16. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Dapatkah para Brahmana yang menguasai tevijja – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam?’
‘Tentu mereka dapat, Gotama’.

17. Vasettha, bagaimana pendapatmu? Para Brahmana yang menguasai tevijja, yang dengan baik – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam – adalah para Brahmana yang menguasai tevijja, dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan bulan dan matahari, dengan berkata: “Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan bulan dan matahari”.
‘Tentu tidak, Gotama!’

18. ‘Vasettha, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapat-mu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’
‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata omong kosong’.

19. ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’
‘Vasettha, bagaikan seorang pria berkata: ‘Betapa saya rindu, betapa saya mencintai wanita tercantik di dunia ini!’
‘Orang-orang bertanya kepadanya: ‘Baiklah kawan. Wanita tercantik di dunia ini, yang anda rindukan dan cintai, apakah anda mengetahui bahwa wanita cantik itu bangsawan (khattiya), Brahmana, pedagang (vessa) atau kalangan bawah (sudda)?’
‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.
‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Jadi, ia yang anda rindukan dan cintai adalah orang yang belum anda tahu dan lihat?’
‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.
‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?’
‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

20. ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’
‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.
‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

21. ‘Vasettha, bagaikan seseorang yang membuat sebuah tangga untuk naik ke istana di suatu tempat di persimpangan jalan. Lalu orang-orang bertanya kepadanya: ‘Kawan, baiklah, untuk naik ke istana itu anda buatkan tangga, apakah istana itu di sebelah, timur, selatan, barat atau utara? Apakah istana itu tinggi, rendah atau menengah?’
‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.
‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Kawan, jadi anda membuat tangga untuk naik ke sesuatu – apakah itu istana – yang anda tidak tahu dan belum lihat?.
‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.
‘Vasettha, bagaimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?
‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

22. ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’
‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

23. ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

24. ‘Vasettha, bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia berdiri di tepi sini, ia memohon ke tepi sebelah dengan berkata: ‘Wahai tepi seberang sana, datang ke sini!, datanglah ke seberang sini!’
‘Vasettha bagaimana pendapatmu? Apakah tepi seberang sungai Aciravati, karena permohonan, doa, pujian dan harapan orang itu akan datang ke tepi sebelah sini?’
‘Gotama, tentu saja tidak’.

25. ‘Vasettha, begitulah caranya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – berkata: ‘Kami mohon Inda, kami mohon Soma, kami mohon Varuna, kami mohon Isana, kami mohon Pajapati, kami mohon Brahma, kami mohon Mahiddhi, kami mohon Yama.
‘Vasettha, para Brahmana yang menguasai tevijja – meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – bahwa mereka, berdasarkan pada permohonan, doa, pujian dan harapan, bila mereka meninggal dunia akan menyatu dengan Brahma – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

26. ‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, tangannya, punggungnya terikat erat oleh rantai kuat, dan bagaimana pendapatmu, Vasettha, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?
‘Gotama, tentu saja tidak’.

27. ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya-ariya sebagi rantai atau ikatan’.
‘Apakah lima hal itu?’
Pertama adalah benda-benda (rupa) yang dilihat mata, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebab-kan kesenangan.
Kedua adalah Suara-suara yang didengar telinga, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Ketiga adalah Bebauan yang dicium oleh hidung, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Keempat adalah Rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai menyebabkan kesenangan.
Kelima adalah Sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan. Lima hal ini berkecenderungan pada nafsu disebut dalam Vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan’.
‘Vasettha, lima hal berkecenderungan pada nafsu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja terantai, terangsang, terikat pada hal-hal itu, dan mereka tidak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu’.

28. ‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terikat pada hal-hal itu, dan mereka tdlak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

29. ‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, ia membungkus dirinya hingga ke kepalanya, ia berbaring untuk tidur. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?
‘Gotama, tentu saja tidak’.

30. ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima rintangan (nivarana), yang dalam vinaya-ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat.
‘Apakah lima hal itu?’
Pertama ‘Nafsu indera sebagai perintang’.
Kedua ‘Kebencian sebagai perintang’.
Ketiga ‘Malas dan ngantuk sebagai perintang’.
Keempat ‘Keragu-raguan sebagai perintang’.
Kelima ‘Kegelisahan sebagai perintang’.
‘Vasettha, inilah lima perintang yang dalam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat’.
‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terintang, terhalang, terganggu dan terjerat oleh lima rintangan ini – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

31. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu dan apakah anda pernah mendengar dari para Brahmana tua dan telah berpengalaman, dan ketika para ahli dan para guru bercakap-cakap bersama?
Apakah Brahma memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’
‘Tidak, Gotama’.
‘Apakah ia diliputi bahaya atau bebas dari bahaya?’
‘Bebas dari bahaya, Gotama’.
‘Apakah ia diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?
‘Bebas dari kebencian, Gotama’.
‘Apakah ia ternoda atau suci?’
‘Suci, Gotama?’
‘Apakah ia menguasai dirinya atau tidak?’
‘Menguasai dirinya, Gotama’.

32. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’
‘Memiliki, Gotama’.
‘Apakah mereka diliputi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’
‘Diliputi kemarahan, Gotama’.
‘Apakah mereka diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’
‘Diliputi kebencian, Gotama’.
‘Apakah batin mereka suci atau tidak?’
‘Tidak suci, Gotama’.
‘Apakah mereka menguasai diri mereka atau tidak?’
‘Tidak menguasai mereka, Gotama’.

33. ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana memiliki istri dan kekayaan, namun Brahma tidak memiliki. Dapatkah disesuaikan atau disamakan Brahmana yang memiliki istri dan harta dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta?’
‘Tentu tidak, Gotama’.

34. ‘Vasettha, baiklah. Tetapi sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja ini, yang hidup dalam perkawinan dan memiliki harta, setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi’.

35. ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana diliputi kemarahan, kebencian, ternoda, dan tak menguasai diri; sedangkan Brahma tidak diliputi oleh kemarahan, tidak diliputi kebencian, suci dan menguasai diri. Dapatkah disesuaikan atau disamakan para Brahmana dan para Brahma?’
‘Tentu tidak, Gotama?’

36. ‘Vasettha, baiklah. Bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ini yang masih diliputi kemarahan, kebencian, ternoda dan tidak menguasai diri setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang bebas dari kemarahan dan kebencian, suci dan menguasai diri – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi.
Vasettha, demikianlah, walaupun para Brahmana menguasai tevijja, mereka meyakininya, namun mereka tenggelam (dalam upacara); karena tenggelam mereka tiba hanya pada kepuasaan, sementara mereka mengira bahwa mereka menyeberang ke tanah bahagia’.
Maka tiga kebijaksanaan para Brahmana yang menguasai tevijja disebut padang tanpa berair; tiga kebijaksanaan mereka disebut hutan tanpa jalan; tiga kebijaksanaan mereka disebut kegagalan’.

37. ‘Ketika beliau selesai berkata, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, telah dikatakan kepadaku bahwa Samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma’.
‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, bukankah Manasakata dekat dan tak jauh dari tempat ini?’
‘Begitulah, Gotama. Manasakata dekat, tidak jauh dari tempat ini’.
‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, misalnya ada seseorang yang lahir di Manasakata dan belum pernah meninggalkan Manasakata, lalu orang-orang bertanya kepadanya tentang jalan yang menuju Manasakata. Apakah orang itu yang lahir dan dibesarkan di Manasakata akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab?’
‘Tentu tidak Gotama. Mengapa? Jika seseorang lahir dan dibesarkan di Manasakata, maka setiap jalan yang mengarah ke Manasakata diketahuinya dengan baik’.

38. ‘Vasettha, orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Manasakata mungkin saja ia akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab bila ditanya jalan yang menuju ke Manasakata; tetapi Tathagata, bila ditanya mengenai jalan yang mengarah ke alam Brahma, ia tidak akan ragu-ragu atau mendapat kesulitan untuk menjawab. Vasettha, karena saya tahu Brahma, alam Brahma, dan jalan yang mengarah ke alam Brahma. Ya, saya mengetahui itu karena saya sebagai seorang yang telah memasuki alam Brahma dan telah terlahir di dalamnya’.

39. ‘Setelah beliau berkata begitu, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, begitulah dikatakan kepada saya bahwa samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma. Itu bagus sekali. Mohon yang mulia Gotama menunjukkan jalan untuk bersatu dengan Brahma, mohon yang mulia Gotama menyelamatkan ras Brahmana’.
‘Vasettha, perhatikanlah dan dengarkanlah dengan baik, saya akan bicara!’
‘Baiklah,’ jawab pemuda Brahmana Vasettha menyetujuinya’.

40. ‘Kemudian Bhagava berkata: ‘Vasettha, ketahuilah di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmana; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci’.

41. ‘Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup tak berkeluarga (pabbajja).
Maka tidak lama kemudian ia meninggalkan hartanya, apakah itu besar atau kecil; meninggalkan lingkungan keluarganya, apakah banyak atau sedikit, ia mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi tak berkeluarga (pabbajja).

42. ‘Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas’.

43. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya? Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup, inilah sila yang dimilikinya.
‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya’.
‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya’.

44. ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’. Inilah sila yang dimilikinya’.
‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Inilah sila yang dimilikinya’.
Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pernbicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya’.
Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya’.
‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang dhamma dan vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya’.

45. Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh- tumbuhan.
Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari.
Ia menahan diri dari menonton pertunjukkan-pertunjukkan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
Ia menahan dari penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
Ia menahan diri dari penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia menahan diri dari menerima emas dan perak.
Ia menahan diri dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak.
Ia menahan diri dari menerima daging yang belum dimasak.
Ia menahan diri dari menerima wanita dan perempuan-perempuan muda.
Ia menahan diri dari menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan.
Ia menahan diri dari menerima biri-biri atau kambing,
Ia menahan diri dari menerima bagi dan unggas,
Ia menahan diri dari menerima gajah, sapi dan kuda.
Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian.
Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran.
Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan.
Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
Inilah sila yang dimilikinya’.

46. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas- ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’

47. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

48. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti: tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

49. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan bajak mainan, permainan jungkir balik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, seorang bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’

50. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

51. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

52. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang mencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percapakan tentang wanita, percakapan tentang lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.

53. ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini? ‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. ‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau berbicara langsung pada pokok persoalan’. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’. Kata-kata bantahanmu itu ditentang, dan engkau ternyata salah’. ‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

54. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

55. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

56. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa, mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kelajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

57. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

58. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.

59. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

60. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

61. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

62. ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberi collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

63. ‘Vasettha, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut manapun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila, Vasettha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut manapun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna’.

64. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya? Vasettha, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya. Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.
Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

65. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian seksama dan pengerti jelas? Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali; ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping; ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta); ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam. Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

66. ‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas? Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini. Vasettha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Vasettha, demikian pula seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini. Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu merasa puas’

67. ‘Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

68. ‘Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad jahat. Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan. Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran. Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.

69. ‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: “Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

70. ‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

71. ‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

72. ‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

73. ‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

74. ‘Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

75. ‘Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

76. ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan keseluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

77. ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta-kasih’.
‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

78. “Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’
‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh kasih-sayang (karuna) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih-sayangnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh empati (mudita) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh keseimbangan batin (upekkha) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

79. ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh kasih sayang’.
‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.
‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh empati’.
‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.
‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh keseimbangan batin’.
‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

80. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, akankah bhikkhu yang hidup seperti itu memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’
‘Ia tidak akan, Gotama’
‘Apakah ia akan dipenuhi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’
‘Ia akan bebas dari kemarahan, Gotama’.
‘Apakah ia akan diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’
‘Ia bebas dari kebencian, Gotama’.
‘Apakah pikirannya akan ternoda atau suci?’
‘Pikirannya akan suci, Gotama’.
‘Apakah ia akan menguasai dirinya atau tidak akan?’
‘Ia akan menguasai dirinya, Gotama’.

81.’Vasettha, anda mengatakan bahwa bhikkhu itu bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian, dan Brahma bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian. Apakah ada persesuaian atau persamaan antara bhikkhu dan Brahma?’
‘Ya, Gotama’.
Vasettha, baiklah. Vasettha bila demikian, bhikkhu yang bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian bilamana meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma, karena ada persamaannya – keadaan seperti mungkin terjadi’.

‘Vasettha, seperti yang anda katakan bahwa bhikkhu adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, pikirannya suci dan menguasai dirinya; dan Brahma adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, suci dan menguasai dirinya.
Vasettha, dengan demikian sesungguhnya bhikkhu yang bebas dari kemarahan. Bebas dari kebencian, pikiran suci dan dapat menguasai dirinya, bila ia meninggal dunia, ia dapat bersatu dengan Brahma, yang ada persamaannya – keadaan seperti ini mungkin terjadi’.

82. Setelah beliau berkata begitu, kemudian pemuda Brahmana Vasettha dan Bharadvaja berkata kepada Bhagava: ‘Mengagumkan kata-kata yang diucapkan Gotama. Menakjubkan! Bagaikan orang yang menegakkan benda yang tergeletak, atau menemukan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat, atau menerangi tempat yang gelap sehingga orang yang mempunyai mata dapat melihat benda; – begitu pula, Gotama telah membabarkan dhamma kepada kami dalam banyak cara. Kami menyatakan berlindung kepada Bhagava, Dhamma dan bhikkhu Sangha. Mohon Bhagava menerima kami sebagai pengikut (upasaka) sejak hari ini hingga akhir hayat’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: