h1

Kesabaran, Siapa Takut…..!!!

September 21, 2010



Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
Melatih kesabaran adalah cara bertapa yang tertinggi
(Ovādapāṭimokkhadipāṭhā)

Melatih untuk membina diri sesungguhnya ada pada dalam keseharian kita. Melatih diri bukanlah sesuatu yang dimengerti bahwa; harus dilatih di tempat2 suci, tempat2 sakral, vihara atau ditempat2 tertentu saja. Tetapi justru didalam kehidupan dan aktifitas sehari2 kitalah yg mempunyai peran aktif serta peningkatan latihan kita masing-masing.

Salah satu pesan nasehat yang sangat penting dalam perkembangan Buddhasasana yang pernah diungkapkan sendiri oleh Sang Buddha kepada siswanya 1250 orang bhikkhu di Veluvanarama taman tupai, adalah tentang “KESABARAN”. Sesungguhnya kesabaran adalah latihan untuk membina diri yang paling tinggi. Kalau kita menghadapi atau mengalami kondisi yang menyenangkan di sekitar kita, seperti melihat orang lain berbuat baik, berkata ramah, tidak membenci, saling menyayangi, maka kita dapat bersikap sabar.

Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, menghadapi keadaan yang menyenangkan bukan sikap sabar, justru kesabaran adalah sikap yang tenang dengan dilandasi sikap yang benar. Ketika pada saat menghadapi kondisi2 yang tidak menyenangkan, seperti melihat orang lain yang berbuat jahat kepada kita, mencela, menghina, memfitnah, atau melakukan perbuatan buruk apa saja kepada kita, sesungguhnya itulah yg merupakan sikap yang baik dalam melatih kesabaran.

Ketika masalah muncul & timbul, biasanya yg muncul adalah kemarahan, dendam, kebencian, saat itulah betapa rapuhnya batin kita menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, sikap yang didorong oleh kemarahan, sesungguhnya sangat merugikan diri kita sendiri. Tampak dengan jelas tidak ada ketahanan mental dalam diri kita untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan itu.
Ada dua macam kesabaran:

1. Yang pertama,Adalah kesabaran yang paling rendah (Adikarana Khanti)

Bersabar dengan hal2 yang sederhana, dengan kondisi2 yang kecil, seperti: ketika kita saat mengalami kondisi iklim udara yang panas atau dingin, makanan yang tidak sesuai dengan selera kebiasaan kita, menunggu janji ketemuan yg tak kunjung datang2, bersabar ketika kondisi fisik kita sedang sakit, bersabar ketika sedang mengemudikan mobil di jalan,macet,dilampu merah dan bersabar menunggu ketika mendengarkan ceramah/meditasi lama yg tidak selesai2. Inilah salah satu bentuk contoh2 dari (Adikarana Khanti – Kesabaran yang relatif rendah/ biasa) Dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan itu yang mungkin masih relatif sederhana dan tergolong kecil bukan tidak mungkin akan memungkinkan diri kita untuk melatih kesabaran yang lebih tinggi.

2. Yang kedua, Adalah kesabaran yang lebih tinggi (Titikka Khanti)

Apakah yang dimaksud kesabaran yang lebih tinggi itu? Yaitu kesabaran terhadap masalah yang lebih besar.

Dalam Dhammapada (1:4) Sang Buddha bersabda:

“Akkocchi mam avadhimam

Ajini mam ahasime

Yecatam upanayhanti

Veram tesam na sammati”


Mereka yang tidak memendam di dalam dirinya (dan tidak berpikir): ’bahwa Ia telah menyiksa aku, ia telah memukuli aku, ia telah mengalahkan aku dan ia merampokku’, maka kebencian akan lenyap dari batinnya.” Inilah kesabaran yang paling tinggi.

Jadi ketika saat kita mengalami kondisi disiksa, dipukul, dihina, dicela dan dimarahi, hendaknya kita untuk selalu tetap berusaha sabar, tenang  dan tidak membalasnya atau meladeninya.  Karena kita tau bahwa kemarahan dan kebencian apabila muncul dalam batin kita tentu akan merugikan diri kita sendiri dan orang lain, serta kebencian bila dibalas kebencian tentu tidak akan pernah berakhir.

Memang kesabaran (Titikka Khanti) ini tidaklah mudah seperti apa yang kita bayangkan. Akan tetapi justru dengan adanya kondisi seperti itulah yang nantinya akan membantu kita untuk mau belajar dan mencoba agar kita tau bagaimana latihan kesabaran yang tertinggi itu. Dengan kondisi seperti itu jugalah yang nantinya akan mendewasakan serta yg menjadikan guru sejati kesabaran kita, ketika ada orang yang mengganggu kita, mencari kesalahan kelemahan kita, menghancurkan kita, menjelekkan kita, mengharapkan penderitaan dan kesengsaraan kita. Kita tetap menghadapinya dengan tenang dan tegar, tetapi apabila kalau kita menghadapinya dengan pemikiran sempit/ dangkal atau dengan emosional, tentu penyelesaian masalah akan sulit kita dapatkan, tetapi justru sebaliknya kita akan menambah masalah. Kebencian, dendam, dan sakit hati bukan menunjukkan keperkasaan, tetapi sebaliknya, menunjukkan kelemahan mental,pikiran dan batin kita saja.

Bagi orang yang melatih kesabaran akan memperoleh lima (5) manfaat:
1. Ia akan disenangi oleh orang lain;
2. Ia akan terhindar dari bahaya;
3. Ia akan terhindar dari kesalahan;
4. Pada saat ia mau meninggal dunia, ia memiliki pikiran yang tenang;
5. Setelah meninggal dunia ia akan terlahir di alam bahagia.

Ada beberapa hal renungan yang dapat membantu melatih kesabaran, yaitu:

1) mengabaikan hal tak baik tersebut (cacian, hinaan, pukulan, dll.)
2) mengenang kwalitas baik dari orang yang menyakiti kita, sehingga timbul rasa sayang
3) mengerti bahwa orang tersebut akan memetik buah yang pahit di kemudian hari (meningkatkan rasa kasihan terhadapnya).


4.) menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta itu tidak kekal, tidak abadi, berubah setiap saat. Kesulitan apapun yang kita hadapi tidaklah kekal dan tidak selamanya akan mencengkeram kita. Masalah yang menyulitkan kita datang sebentar kemudian akan berlalu. Menyadari perubahan terhadap sesuatu masalah membuat kita bertahan. Jadi, tidak ada alasan untuk patah semangat.

5.) kesulitan yang kita alami janganlah kita hadapi dengan pemikiran yg sempit. Ciptakanlah pemikiran2 yg positif setiap saat: walaupun ia telah menyiksa aku, ia telah memukuli aku, ia telah mengalahkan aku dan ia telah merampokku, ia telah membenci aku dan ia tidak simpatik kepadaku. Inilah perlu kita ketahui. Selalu dan berusaha untuk berupaya berpikir secara Dhamma, bahwa kesulitan yang terjadi adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Kesulitan dan segala macam kesalahan bukan dibuat oleh para dewa atau makhluk lain, tetapi oleh akibat dari perbuatan diri sendiri. Janganlah kita menyalahkan orang lain atas kesalahan kita tetapi salahkanlah diri kita sendiri atas kesalah orang lain. Mungkin orang yg berbuat tidak menyenangkan kepada kita itu karena tidak tau, masih blm mengerti dhamma. Hendaknya kasih sayang kita pancarkan kepadanya, maafkanlah lupakanlah semoga apa yg dilakukannya disadari dan semoga mereka bisa diperbaikinya dikemudian hari.

Dengan dua landasan pengertian inilah kita membangun kesabaran kita, memperkuat daya tahan mental kita dalam menghadapi kesulitan yang mengganggu kita. Dengan cara inilah kita melatih kesabaran. Kita berusaha tenang, batin tidak tergoyahkan meskipun masalah yang datang silih berganti. Kita harus pandai2 menggunakan kesempatan dalam keseharian kita dan meningkatkan kesabaran kita.

Kesabaran sangat diperlukan dimanapun saja karena tidak mengenal waktu dan tempat. Seseorang yang tidak cukup memiliki ketahanan mental, ia akan mudah terpengaruh melakukan perbuatan buruk.
Marilah kita melatih kesabaran. Dengan melatih kesabaran kita akan selalu memilih perbuatan yang baik. Dengan melatih kesabaran dg daya upaya benar, kita akan terhindar dari perbuatan buruk dan penderitaan . Dengan demikian kita selalu melakukan perbuatan baik dan berguna bagi masyarakat, keluarga, dan diri sendiri.

Marilah kita menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas batin kita, meningkatkan kesabaran dan daya tahan mental. Marilah kita mengisi dengan hal-hal yang berguna dengan selalu berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk serta bersihkan kekotoran batin yang ada pada batin kita. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan dalam kondisi apapun yang datang menyongsong kita dengan ketahanan mental. Hiduplah dengan penuh kesabaran, sehingga hidup kita akan selalu aman, damai, dan bahagia

Analogi…..

Bhante Rahula memulainya dengan kisah Buddha dimana Beliau dicaci maki, dihina, dan dimarahin oleh seorang perumah tangga. Buddha dengan sabar menerima cacian dan hinaan tersebut. Setelah orang tersebut selesai, Buddha berkata, “Apakah engkau telah selesai dengan cacian dan hinaanmu itu?” Dan orang tersebut menjawab, “Ya, saya telah selesai.” Kemudian Buddha bertanya, “Apakah kamu bersedia mendengar tanggapanku?” Orang tersebut menyetujuinya. Buddha bersabda:

“Bagaikan seorang tuan rumah yang menerima tamu di rumahnya,
ia akan menyediakan makanan dan minuman kepada tamunya;
akan tetapi apabila tamu tersebut tak mau menerima makanan dan minuman yang dihidangkannya, maka semua yang dihidangkan akan dengan sendirinya (kembali) menjadi milik si tuan rumah.”

“Begitu pula dengan segala cacian dan hinaan;
Segala cacian dan hinaan yang tak diterima oleh yang dicaci,
akan kembali menjadi milik si pencaci.”

Itulah sabda Buddha yang menunjukan bahwa seorang yang suci tak dapat digoyahkan oleh cacian, makian, dan hinaan. Kita pengikut ajaran Beliau juga seharusnya mencontohi sifat mulia Beliau.

Kemudian Bhante mengutip kisah Bhikkhu Punna yang merupakan seorang arahat yang memiliki kesabaran yang luar biasa. Bhante Punna berkehendak pergi merantau jauh membabarkan Dhamma. Akan tetapi Buddha menasehatinya untuk berhati-hati karena daerah yang ia pilih tersebut didiami oleh banyak orang kasar. Berikut adalah ringkasan percakapan tersebut:

Buddha: “Tetapi Punna, orang-orang sana sangatlah kasar perilakunya.”
Bhante Punna: “Biarlah, O Bhagava; mereka itu baik karena biarpun kasar mereka tak memukulku.”
Buddha: “Bagaimana kalau mereka memukulmu?”
Bhante Punna: “Biarlah, O Bhagava; mereka itu baik karena biarpun mereka memukulku, mereka tak memotongku.”
Buddha: “Bagaimana kalau mereka memotongmu?”
Bhante Punna: “Biarlah, O Bhagava; mereka itu baik karena biarpun mereka memotongku, mereka tak membunuhku.”

Mendengar jawaban Bhikkhu Punna, Buddha berkata, “Bagus, bagus sekali, Punna. Engkaulah yang paling sesuai untuk menyebarkan Dhamma di sana. Sebarkanlah Dhamma yang indah ini di negeri sana.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: